Artikel

Indahnya Perjalanan Umrah Bersama Mursyiduna Syeikh KH. Sa’adih Al-Batawi


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Oleh: Ust. Syamsudin, M.Pdi

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariikala labbaik …
Kami datang memenuhi panggilan-Mu Yaa Rabb…

Alhamdulillah, atas segala nikmat dan kebesaran Allah, di bawah bimbingan Mursyiduna Hadratus Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi rombongan jamaah umrah Majelis Dzikir As-Samawaat Al-Maliki dapat melaksanakan ibadah dengan penuh tadharru, taqarrub, dan penuh bimbingan hikmah. Bukan sekedar syariat, namun sampai bimbingan spiritual demi peningkatan mahabatullah war rasul (cinta kepada Allah dan Rasul-Nya).

Terbukti dan dirasakan oleh para peserta umrah, bahwa kedatangan kita ke Madinah disambut oleh Allah dan Rasul-Nya dengan diperkenankan kami untuk lebih memahami, menggali, dan mengamaliahkan ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh imam shalat, yaitu surat Al-Qalam. Namun, pada kesempatan ini sejenak kita perhatikan pada ayat 1-7 surat tersebut. Allah berfirman,

نٓ ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ. مَآ أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ. وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ. وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ. فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ . بِأَييِّكُمُ الْمَفْتُونُ . إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿القلم:۱-۷ ﴾

1. Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
2. Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
3.Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
4. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
5. Maka, kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,
6. Siapa di antara kamu yang gila.
7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pada ayat tersebut mindset kita diarahkan tentang bagaimana sosok Rasulullah, Nabi Muhammad saw, yang saat ini engkau berada dalam masjid yang dibangun oleh beliau dan perjuangannya di Kota Madinah ini. Beliau bukan sosok orang gila. Beliau adalah manusia pilihan Allah yang penuh dengan kasih sayang, yang tak pernah pantang menyerah untuk mengajak manusia saat itu untuk mengenal Allah, bertauhid Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadur-Rasulullaah. Yang dengan akhlak beliau sehingga kita bisa merasakan kenikmatan beribadah di Kota Madinah, wa bil khusus di Masjid Nabawi.

Rasulullah boleh wafat, namun ajarannya terus hidup. Karenanya, dalam wadah Majelis Dzikir As-Samawaat Al-Maliki yang dipimpin oleh Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi, ketika kita melihat beliau sebagai sosok seorang mursyid yang dalam proses perjalanan kemakrifatannya, beliau sampai dikatakan gila, sinting, hingga majelis khalwat di Tanjung Burung sampai dibakar. Berkat kasih sayang Allah, beliau tetap istiqamah mengabdikan diri sebagai khadimul ummah (pelayan umat), mengobati para pasien, mengadakan ta’lim, dan berbagai macam pola dakwah yang semuanya beliau lakukan semata-mata mencari ridha Allah dan agar murid-muridnya sampai kepada maqam makrifatullah.

Akhirnya, kami menjerit kepada Allah, “Ya Allah… terima kasih Engkau kumpulkan kami bersama orang-orang soleh di majelis ini. Engkau satukan kami di bawah bimbingan Mursyid KH. Sa’adih Al-Batawi yang menghantarkan kami makrifatullah. Terima kasih, Kyai. Tanpa pernah merasa lelah, letih, dan berkeluh-kesah walaupun ujian dan cobaan terus datang, engkau selalu sayang dan membimbing kami untuk terus bermakrifat.”

Dan ternyata, keesokan harinya ketika kami melaksanakan shalat Subuh, sang imam pun membaca Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 274. Allah berfirman,

الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوٰلَهُم بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
274. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Kembali kami menjerit, “Ya Allah…. Ya Rasulullah…. Betapa indahnya kami memiliki majelis ini dan kami punya seorang mursyid. Beliau sosok seorang guru yang bukan hanya mentransfer ilmu, namun beliau berbuat, memberikan keteladanan, dan membimbing kami, ya Rabb.”

Beliau selalu berpesan dan berwasiat, berbuatlah kebaikan di mana pun berada, pagi, siang, sore dan malam; berjuanglah dengan jiwa, raga, dan harta, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umrah termasuk jihad, karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan.” Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, “Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhal.”

Dengan kata lain, apa yang yang dilakukan dan diajarkan oleh Kyai, semua itu dipertegas di Kota Madinah (Masjid Nabawi) melalui bacaan imam saat shalat berjamaah. Ini seolah-olah mendapatkan legitimasi langsung dari Allah dan disaksikan oleh murid-muridnya.
Sholaatulaah…salaamullaah….
ala Thaha Rasulullaah…
Sholaatulaah…salaamullaah…
‘ala yasiin habiibillaah….

Ziarah Jabal Uhud
Mengambil pelajaran dari Perang Uhud. Sebab dari kekalahan pasukan kaum muslimin ialah melanggar satu perintah Rasulullah saw.

Singkat cerita, ketika kaum muslimin merasakan pahitnya kekalahan Perang Uhud, mereka pun menyadari penyebabnya, dan dengan cara apa mereka akan bisa meraih kemenangan. Sebelum Perang Uhud, waktu itu Sabtu pagi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah mewanti-wanti agar pasukan pemanah yang berada di bukit Rumah (nama aslinya bukit ‘Ainain) agar tetap berada di tempatnya, walaupun kaum muslimin telah meraih kemenangan atau ditimpa kekalahan.
Api peperangan menyala. Pedang menyambar. Anak panah melesat keluar dari busurnya. Tombak dihujamkan. Banyak nyawa yang melayang. Kaum muslimin menyerang, maju dengan penuh kepahlawan sebagai ksatria. Kemenangan pun telah menampakkan senyumnya. Kaum musyrikin lari meninggalkan medan perang penuh ketakutan.
Saat itu, di atas bukit Rumah pasukan pemanah mulai berselisih. Kebanyakan mereka berkata, “Kita telah menang. Ayo kita turun bergabung bersama saudara-saudara kita.“
Pimpinan pasukan, Abdullah bin Zubair radiyallahu’anhu mengingatkan, “Tetaplah berada di tempat kalian, karena Rasulullah memerintahkan agar kita tetap berada di atas bukit, dalam keadaan kita menang ataupun kita kalah.”
“Perintah Rasulullah itu adalah dalam keadaan perang, sekarang perang telah selesai dan musuh telah melarikan diri,” mereka beralasan. Kemudian 40 orang dari 50 orang pasukan pemanah turun dari bukit Rummah.
Pimpinan pasukan berkuda kaum musyrikin, Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam), melihat kebanyakan pasukan pemanah telah meninggalkan tempatnya, maka ia dengan sigap menyerang pasukan kaum Muslimin dari belakang. Sisa pasukan pemanah yang berada di atas bukit yang bertugas untuk melindungi bagian belakang kaum muslimin tidak dapat menghadapi pasukan berkuda kaum musyrikin.
Keadaan pun berbalik. Cahaya kemenangan yang mulai nampak kembali bersembunyi. Kekalahan akhirnya diderita kaum Muslimin. Luka jasmani dan pahitnya kekalahan mereka teguk dengan begitu berat.
Di depan makan para syuhada, Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi menyampaikan bahwa kekalahan Perang Uhud didasari juga karena ada propaganda orang munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Karenanya, sebagai jamaah Majelis Dzikir harus membangun semangat militansi dan kesadaran yang tinggi. Sudah sunatullah jamaah ada yang munafik, pandai berbicara seolah-olah beliau yang paling benar.

Syuhada Uhud, Hamzah bin Abdul Muthallib, melalui Mursyiduna mengucapkan terima kasih telah datang berziarah dan mendoakan dengan penuh etika dan spirit yang tinggi, adab yang mulia. Kyai pun menambahkan, “Yakinlah kalian semua dengan majelis yang ana bawa, membela agama pagi, siang, sore dan malam tanpa bayaran, senantiasa melakukan santunan dan pengobatan. Teruslah istiqamah di majelis ini. Kalau memang saya melanggar dari syariat, silahkan kalian tinggalkan majelis ini.”
Yakinlah apa yang dibawa dan diajarkan beliau ini adalah sesuai dengan syariat.

Kenikmatan Beribadah di Tanah Haram, Mekah al-Mukarramah
Rangkaian ibadah jamaah umrah Majelis Dzikir As-Samawaat Al-Maliki, semuanya dalam bimbingan Mursyid dan ridha Allah.

Setibanya kami di Kota Mekah, kami langsung melaksanakan umrah yang pertama di sepertiga malam. Itulah waktu yang memang mustajab. Udara dan cuaca yang mungkin menurut kebanyakan orang panas, alhamdulillah kami merasakan penuh dengan kesejukan, kedamaian. Seluruh jamaah fana Fillah, melakukan berbagai macam aktivitas ibadah. Mursyid pun menghabiskan waktu beliau untuk terus bisa berbagi mengaplikasikan sifat Allah Swt., Rahman dan Rahim.

Kami menyempatkan untuk silaturahim ke kediaman Alm. Sayid Abbas bin Alawi al-Maliki, bahkan sebelumnya ziarah kami berziarah ke makam Sayyidah Khadijatul Kubra dan Sayyid Abbas Alawi al-Maliki.

Ternyata, dzurriyah (keturunan) Sayyid Abbas betul-betul merindukan sosok seorang ayahnya, yang sosok tersebut ada pada Mursyiduna. Mereka begitu bahagia dan senang, sampai mereka mengatakan rindu kepada sosok Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi. Sambil bercanda, mereka mengatakan, “Al-Batawiii…. Batawii…..”

Saat hari terakhir kita berada di Mekah Al-Mukarramah, saat shalat Subuh, kita disodorkan ayat yang dibaca oleh imam, yakni surat at-Taghabun. Namun, yang ingin saya kaji ayat 1-3. Allah berfirman,

يُسَبِّحُ لِلَّـهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ ۖ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ .هُوَ الَّذِى خَلَقَكُمْ فَمِنكُمْ كَافِرٌ وَمِنكُم مُّؤْمِنٌ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ .خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

1. Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
2. Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
3. Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia membentuk rupamu dan dibaguskan-Nya rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kembali(mu).

Ya Allaah… ternyata benar alam pun ikut bersahabat dengan makhluk manusia yang memang selalu membesarkan Allah dan ajaran Rasul-Nya. Inilah yang ingin dibuktikan oleh Kyai kepada muridnya bahwa ajaran yang beliau bawa, yang beliau ajarkan semata-mata mengingikan agar muridnya sampai kepda Makrifatullah, yakin kepada Allah dan Rasul-Nya. Sekarang ditawarkan oleh ayat ini: “di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Ya Allah… semoga kami menjadi murid yang terus istiqamah di majelis yang kami cintai bersama dengan orang-orang saleh, dan jadikan kami orang-orang yang terus mendekatkan diri kepada Mu, yaa Rabb…

Yaa Rabb… Pelihara kesehatan guru kami dan keluarganya, mudahkan segala urusannya, berikan kemengan dalam dakwah-dakwah beliau, persatukan kami dengan guru kami, ya Allah, sampai ajal yang memisahkan kami.

Subhanallah. Kami kembali dibuktikan, ketika thawaf wada’ awan yang ada di langit menyelimuti kami, mendung sampai tetesan hujan pun turun, kemudian kami shalat sunah dan sujud syukur. Di situlah Kyai kembali menjerit kepada Allah dan Rasul-Nya. Spontanitas kami pun merasakan dan menjerit kepada Allah Swt.

Jamaah sekalian, setelah itu matahari pun kembali bersinar menyinari dengan terik panasnya, dan sekembalinya kami ke hotel dan akan meninggalkan Kota Mekah, Allah turunkan badai angin dan debu.

Akhirnya, kami pun kembali ditekankan lagi oleh ayat di atas: terserah kalian, Allah dan Rasul-Nya sudah buktikan kebesaran-Nya dengan wasilah mursyid kalian di Majelis Dzikir As-Samawaat Al-Maliki. Tergantung diri kalian, apakah tambah yakin kepada Allah dan Rasul-Nya menjadi seorang mukmin atau bahkan kafir?

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَااِلهَ اِلَّا اللهُ وَللهُ اَكْبَرُ
حَسْبُنَا للهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلِ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عُمْرَتَنَا عُمْرَةً مَبْرُوْرَةً وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا