Malam jumat

Dzikir Bersama Ahli Dzikir

Oleh: Ust. Abdul Ghofur, MA, M.Ud

Mudah-mudahan Allah istiqamahkan penulis menegakkan agama Allah melalui Majelis Dzikir As-Samawaat Al-Maliki pimpinan Syech KH. Sa’adi Al-Batawi. Amiin!

Mengutip sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Syaikhani dan Turmudzi bahwa “ Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia ingat kepadaKu di dalam hatinya, Aku pun ingat pula kepadanya di dalam hatiKu. Dan jika ia ingat kepadaKu di lingkungan di dalam keramaian, niscaya Akupun ingat kepadanya didalam keramaian yang lebih baik. Dan jika ia mendekat padaKu sejengkal, Akupun mendekat pula padanya sehasta. Jika ia mendekat padaKu sehasta, niscaya Aku mendekat padanya sedepa. Dan jika dia datang padaKu dengan berjalan, maka Aku mendatanginya sambil berlari “

Di tempat lain  banyak sekali ayat atau dalil yang Allah tuangkan di dalam Al-Qur’an seperti salah satu ayat berikut ini :“ Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, serta dengan tidak mengeraskan suara baik pada waktu pagi maupun sore, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Al-A’raf, 7 : 205).

Syech KH. Sa’adi Al-Batawi, Pimpinan Majelis Dzikir As-Samawaat dalam berbagai kesempatan di pengajian rutin setiap Kamis malam Jum’at menjelaskan bahwa berdzikir jika ditinjau dari perspektif fiqh akan kita dapatkan sebuah makna biasa yang setiap orang dapat mengartikulasikan sebagai sebuah bacaan untuk mengingat kita kepada Allah SWT, tetapi ada aspek spiritual yang sering dilupakan oleh banyak orang. Karena layaknya makhluk hidup, segala sesuatu tercakup dari dua unsur, unsur lahiriah dan unsur batiniah. Tidak terkecuali dengan hal yang berkaitan dengan dzikir.

Sebelum kita mengkaji secara mendalam tentang konsep dzikir dalam perspektif batiniah alangkah baiknya jika kita tinjau dari sisi bahasa sehingga pemahaman tentang tema ini akan kita bisa pahami secara kompeherensif.. Hampir seluruh pakar bahasa sepakat bahwa dzikir berasal dari kata dzakara, artinya ingat. Dzikrullah yaitu ingat kepada Allah SWT. Dalam pengertian yang bersifat umum. Yaitu dzikir yang dilakukan dalam bentuk ibadah seperti: shalat, zakat, puasa, Haji, dan lain-lain. Sedangkan dalam pengertian yang bersifat khusus, yaitu dzikir yang dilakukan dengan menyebut-nyebut (dengan mulut) atau mengingat, mengenang, merasakan, menghayati (dengan qalbu). Biasanya dilakukan setelah melaksanakan shalat. Sebagaimana firman Allah “Maka apabila kamu selesai mengerjakan maka berdzikirlah kamu kepada Allah di waktu berdiri, duduk dan di waktu berbaring. (QS. An Nisaa’: 103). Adapun redaksi berdzikir sebagaimana yang nabi ajarkan didalam kitab Riyadhus Sholihin karangan Imam An-Nawawi yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rasulullah bersabda “ Barang siapa yang pada waktu pagi dan sore membaca Subhanallah wa bi hamdihi seratus kali maka nanti pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang lebih utama daripadanya kecuali orang yang membaca seperti apa yang dibacanya itu atau orang yang membacanya lebih dari seratus kali ” (Muslim). Bahkan didalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah SAW juga pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah sebagai orang yang mati. Artinya bahwa berdzikr mempunyai sebuah posisi penting didalam memahami konsep-konsep beragama.

Jika ditinjau dari bentuk dan sifat dzikir, Syech KH. Sa’adi Al-Batawi mengatakan bahwa ada tiga macam dzikir yang dengan mengkategorikan bentuk ini maka akan bisa diketahui kualitas keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.

  1. Dzikr Bil Lisan bermakna sebuah tindakan atau perbuatan yang berorientasi untuk bagaimana mengingat kepada Allah dengan menggunakan lisan. Dzikr ini adalah paling mudah dan bisa diamalkan oleh setiap orang. Karena siapapun yang mengaku beriman kepada Allah pasti akan pernah mengalami Dzikr ini, hanya saja sampai tidaknya sebuah ucapan ini kedalam hati hanya dirinya dan Allah yang mengetahui.
  2. Dzikr Bil Qalb, bentuk kedua ini adalah sebuah lanjutan dari dzikr bi lisan yaitu berupa pemahaman, penghayatan dengan sepenuh hati sehingga bersemayam didalam sebuah kerajaan hati manusia yang dengan nya terefleksi sebuah ketenangan jiwa. Apapun bentuk problematika yang datang pada dirinya, melalui pancaran Ilahi yang termanifestasikan dalam hati yang tenang semua permasalahan bisa teratasi.
  3. Sedangkan yang terakhir adalah Dzikr Bil Arkan, bentuk yang ketiga inilah tidak semua manusia mampu mengamalkan. Sebuah Tajalliyat tertinggi didalam mengumpulkan sifat-sifat Allah kedalam diri makhluq berupa kebaikan-kebaikan semasa hidupnya. Tak heran jika para filosof menamakan kebaikan-kebaikan yang kita kumpulkan semasa hidup dengan nama “forma”. Forma ini akan nampak dan berwujud pada saat kita dibangkitkan dari alam kubur, kecenderungan atau karakter kita lah yang begitu nyata tergantung dengan kebaikan-kebaikan yang kita kumpulkan semasa hidup kita. Bagi orang-orang yang sudah kenyang dengan terbukanya sebuah hijab antara dirinya dengan Allah (Mukasyafah) hal demikian dan atas izin Allah orang tersebut sudah mampu mengetahui karakter yang ada pada diri orang lain, sebagimana diceritakan oleh Al-Baqir As-Sadr bahwa beliau mengatakan kepada salah satu muridnya bahwa kebanyakan umat yang menjalani ibadah haji hanyalah kesia-siaan belaka, saat ditanya oleh muridnya mengapa demikian maka dengan segera Al-Baqir As-Sadr mengusap muka si murid dan akhirnya si murid terperanjat menyaksikan jutaan manusia dengan beragam bentuk kepala, diantaranya berkepala babi, monyet dan macam-macam tergantung kecenderungan manusia tersebut. Hal demikian tentu tidak akan Allah berikan kecuali kepada manusia-manusia suci yang didalam terkumpul sebuah kebaikan-kebaikan pada dirinya. Karena pada level ini semua perkataan, perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Tidak bertendensi kepada apapun dan siapapun, semua hanya bagaimana Allah Ridho terhadap segala yang diperbuat. Pantas saja seorang sufi merasa Fana saat mereka beramal sholeh, saat bersanding dengan faqir miskin dan anak yatim karena didalamnya terkumpul sebuah kebaikan yang luar biasa.  Untuk mendeskripsikan konsep Fana, seperti pada saat seseorang bercermin. Saat dia melihat sesuatu yang ada dimukanya (jerawat), maka dalam waktu yang bersamaan dunia yang begitu luasnya, dirinya yang meliputi badan mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala bahkan wajahnya sendiri sirna. Mata dan fikiran hanya terfokus kepada sesuatu yang ada diwajahnya yaitu berupa jerawat. Mungkin seperti inilah saat seseorang mengalami ke Fana an didalam mengumpulkan kebaikan-kebaikan yang berasal dari Allah SWT yang dengan tindakan kebaikan tersebut dapat melenakan cacian dan hinaan dari manusia kebanyakan.

Salah satu ciri manusia-manusia yang sudah mampu mengamalkan Dzikr Bil Arkan ini tak beda dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, karena Rasulullah adalah Al-Qur’an hidup dan salah satu nama terpenting dari Al-Qur’an adalah As-Sifa’ (obat). Maka manusia-manusia yang telah tersucikan hatinya akan berakhlaq layaknya akhlaq Rasulullah dan akhlaq Rasulullah tentu berasal dari akhlaq Allah (Takhollaqu bi Akhlaqillah). Didalam salah satu khutbah nya, Sayyidina Ali berkata : “ Nabi adalah seorang tabib berjalan, dimanapun beliau berada dia akan mengobati derita umatnya. Beliau selalu mempersiapkan alat-alat medisnya dan membawa bersamanya sehingga saat memerlukan dapat digunakan. Beliau selalu mencari orang yang menderita, hamba yang lupa dan kebingungan untuk di obati bahkan beliau mampu mengobati hati yang buta , telinga yang tak mendengar dan mulut yang tak berkata”.

Sehingga manusia yang telah mendapat predikat “dekat dengan Allah” senantasa berakhlaq dengan menggunakan akhlaq Allah SWT, berkata dengan kata Allah dan berbuat dengan perbuatan Allah dan semua itu terangkum dalam konsep Wahdah as-Sifat dan Wahda al-Af’al yaitu sebuah penyatuan antara sifat-sifat Allah dan perbuatan-perbuatan Allah. Jika manusia sudah mampu mengakomodir semua sifat dan perbuatan Allah dalam dirinya maka tidak diragukan lagi bahwa manusia seperti inilah yang disebut didalam Al-Qur’an sebagai manusia Rahmatan lil Alamin. Manusia jenis ini tentu manusia yang berkepribadian seperti pribadi akhlaq Rasul, selalu menebar kebaikan diantara sesama.

Semoga kita mampu mengaplikasikan Dzikr ini sebagai sebuah wahana untuk mendapat gelar al-Insan Rahmatan lil Alamin. Tentu bulan ini adalah bulan dimana kesempatan besar itu terbuka lebar untuk kita dalam rangka mengumpulkan semaksimal mungkin sifat-sifat Allah agar kita mampu mengoptimalkan seluruh potensi kemanusiaan kita sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara ciptaan-ciptaan Tuhan yang lainya. Sebuah potensi yang jika telah teraktualisasi maka derajatnya melebihi dari para malaikat-malaikat Allah. Manusia jenis ini tentu salah satu penyebabnya adalah karena telah mampu memahami dan mengoptimalkan seluruh bentuk dzikir kepada Allah, dzikir yang tidak terbatas kepada banyaknya bacaan tetapi lebih dari itu adalah mampu mengamalkan seluruh daya dzikir yang ada, yaitu bil lisan, bil qolbi dan bil arkan. (###)