Malam jumat

Seorang Salik Harus Membidik Akhlak Rosulullah

 Seorang Salik Harus Membidik Akhlak Rosulullah
By : Redaksi Assamawwat.id

Seorang penempuh jalan atau Salik harus tahu kemana arah yang ditujunya. Agar tidak kehilangan arah saat berjalan maka dia harus fokus pada titik tujuan bidikannya. Bidikan perjalanannya adalah Ahklak Rosulullah. Bagaimana dia bisa menjadi duplikat yang memiliki karakter seperti sosok aslinya.  Sehingga sifat-sifat Allah maujud dalam dirinya.

Rosulullah Saw adalah sosok yang memiliki budi pekerti yang agung.  Keagungan akhlaknya dipuji Allah Swt dalam surat Al Qolam ayat 4 : “Sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang luhur”.  Beliau adalah orang paling tahu dengan nikmat dan kebesaran Allah Swt.   Karena itu Dia berupaya keras untuk mengajak manusia memahami kebesaran Allah swt dan menjadi hamba-hamba yang hanya mengabdi kepadaNya. Itulah satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Kegigihannya mengajak manusia pada jalan keselamatan ini sampai dia mengabaikan kesalamatan diri dan keluarganya, menghabiskan seluruh harta, waktu dan hidupnya.  Tak jarang Beliau bersedih jika mengetahui masih ada manusia yang tidak mau beriman dan berpaling dari ajakannya.

Kemuliaan akhlak Rosulullah tergambar jelas dari caranya mengajak manusia untuk menjadi hamba Allah Swt.  Tidak pernah membalas perilaku buruk orang yang menolak ajakannya. Sebaliknya beliau membalas dengan berbuat baik kepada yang bersangkutan.  Bahkan beliau mencegah malaikat yang akan membalas penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu, dengan alasan  orang yang melemparinya itu belum memahami dengan misi ajakannya. Kalaupun tidak,   beliau berharap nanti ada diantara anak-anaknya yang beriman. Beliau juga  adalah orang pertama menjenguk orang yang setiap pagi meludahinya ketika orang itu jatuh sakit.  Beliau juga yang setiap hari menyuapi seorang buta yang membully dan menyebar fitnah tentang dirinya. Singkat kata, tidak cukup kertas dan tinta untuk menulis keluhuran akhlak  sosok agung,  Rosuluulah Muhammad Shollallahu alaihi wasallam ini.   

Namun demikian, banyak manusia yang berpaling dari ajakannya dan mengatakannya sebagai orang gila. Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan dakwahnya. Mulai dari upaya pembunuhan fisik sampai pembunuhan karakter. Secara fisik beliau sudah beberapa kali berhadapan dengan pembunuh bayaran dan pasukan khusus yang dikirim untuk membunuh beliau.  Secara karakter, beliau dibunuh dengan menyebutnya sebagai orang gila, tukang sihir, pendusta dan lain-lain ungkapan yang intinya membangun opini bahwa Nabi Muhammad Saw itu adalah sosok yang buruk. Hebatnya, pembunuhan karakter ini tidak hanya terjadi semasa beliau hidup tetapi masih berlangsung sampai hari ini, 15 abad setelah beliau wafat.  Termasuk garis keturunannya nenek moyangnya dicitrakan sebagai sosok hina dengan menyebut Siti Hajar sebagai seorang budak. Padahal Siti Hajar itu adalah putri seorang raja.    

Tetapi  Rosulullah adalah Permata mulia yang kilaunya tidak akan pudar karena lumpur dan kotoran yang memercikinya. Bahkan sebaliknya, cahaya keagungannya  akan semakin terang menembus dan masuk dalam hati manusia yang sedang dirundung kegelapan. Cahaya itu pula yang menerangi peradaban manusia menjadi lebih manusiawi dan beradab. Dan inilah misi Rosulullah dalam tugas kenabiannya, membangun akhlak. Karena hanya dari pribadi yang berakhlak mulia yang akan melahirkan masyarakat, bangsa dan peradaban mulia.

Mengapa seorang Salik harus membidik Akhlaq Rosulullah Saw? Karena hanya dengan akhlak Mahabbah bisa diraih dan  dakwah bisa berhasil. Dengan kata lain Akhlak menjadi kata kunci bagi seorang Salik untuk menaiki tangga perjalanannya (Suluk).  Sebuah perjalanan bukan tidak ada rintangan yang akan menganggu fokus dan memalingkan perhatian. Disinilah perlunya latihan-latihan agar seorang Salik bisa fokus. Jika tidak fokus bukan saja perjalanannya tidak sampai tetapi sangat mungkin berbelok arah.

Mengikuti jalan Rosulullah dan menduplikat akhlak beliau, harus bersiap pula dengan konsekuensi seperti yang beliau alami.  Dibilang gila, orang aneh, tidak umum dan lain-lain sebutan yang membunuh karakter. Belum lagi tawaran dunia yang menggoda agar kita berhenti menghidupkan cahaya ini. Yang kesemuanya itu hanya bisa dihadapi oleh pribadi yang kuat dan sehat mental spiritualnya. Sangat mungkin berhadapan dengan ancaman keselamatan jiwa seperti yang di alami oleh Mursyiduna ketika di awal beliau menempuh jalan ini. Tetapi apapun alasannya, misi harus tetap berjalan karena disinilah berlaku ayat 3 dari Al Qolam, “ Sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak ada putus-putusnya”. (Disarikan dari Pengajian Malam Jumat).