Berita

Muslim Itu Harus Bermental Raja

Puri Kembangan 08/04/2017. Berbicara di depan sejumlah anggota kepolisian Polres Jakarta Barat, Pimpinan Majelis Dzikir As-samawaat Al-Maliki, Syeikh KH. Saadi Al-Batawi mengungkapkan seorang Muslim itu harus bermental raja. Bermental raja karena Allah SWT itu salah satu sifatnya adalah Maha Diraja yang harus maujud dalam diri seorang Muslim. Maka seorang Muslim adalah orang yang bebas tidak menggantungkan hidupnya kepada makhluk. Tidak mengikat diri dengan dunia karena satu-satunya tempat dia bergantung adalah Allah SWT.

Bermental raja itu bukan berarti sombong, karena sombong dan takabbur itu bukan pakaian makhluk. Bermental raja artinya dia bukan orang yang lemah tetapi memiliki power untuk selalu memberi . “Maka kalo ceramah tidak akan menjadi peminta-minta, yang hanya mau berangkat jika ada depe dulu,” tegas Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi. Di Majelis Dzikir As-samawaat Al-Maliki, menurut Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi dalam kondisi apapun jamaahnya diajarkan untuk selalu memberi. Karena memberi itu juga adalah maujudnya sifat Allah SWT, Yang Maha Pemberi.
Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi menyampaikan pernyataan itu dalam acara Pengajian Akbar yang di selenggarakan oleh Polsek Kembangan dan Polsek Kebon Jeruk, di Majelis Pusat As-samawaat Al-Maliki, Jl. Puri Kembangan 15, Jakarta Barat. Hadir dalam acara itu sejumlah tamu undangan dari kalangan sipil, TNI dan Polri. Dari kepolisian, AKBP, Kelana Jaya, Kabag Ops Polres Jakarta barat hadir mewakili Kapolresnya.

Di Majelis Dzikir As-samawaat Al-Maliki, selain kajian rutin di setiap malam Jum’at dan malam Minggu, ada juga pengobatan, namanya pengobatan Robbani, sebuah metode pengobatan yang membawa orang untuk semakin dekat dengan Tuhannya dan menjauhkan pasien dari praktek syirik. “Di sini tidak ada pengobatan-pengobatan yang memindahkan penyakit pasiennya ke kambing atau ke ayam. Berobat di sini segala jimat, wafak, isim dan semacamnya harus dibuang,” kata Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi. Semuanya tidak berbayar dan dilakukan dengan cuma-cuma. Maka di sini tidak ada kotak sumbangan atau kotak amal seperti yang sering dilihat di tempat lain.

Menanggapi sambutan Kabag Ops Polres Barat, AKBP Kelana jaya yang meminta jemaah Majelis Dzikir As-samawaat Al-Maliki untuk ikut serta menjaga situasi kondusif di ibukota, Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi menegaskan bahwa Majelis Dzikir As-samawaat Al-Maliki adalah majelis yang selalu komit menjaga NKRI. “NKRI itu harga mati”. Ulama dan santri tidak pernah absen dalam menjaga republik Indonesia ini,” yang disambut jemaah dengan takbir dan pekik merdeka. Sambil menunjuk bendera merah putih dan burung Garuda yang ada di majelis, Mursyiduna Syech KH. Saadi Al-Batawi menjelaskan bahwa dari performance majelis dan keberadaan simbol-simbol negara itu sudah sangat kentara jika As-samaawat adalah majelis yang selalu berada di depan untuk membela negeri dan bangsa ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.10 wib, dan jemaah masih duduk tenang. “Di sini kita biasa ngaji sampai pagi. Pengajian ibu-ibu selesai pukul 01.00 setiap malam minggu. Kalo bapak-bapak di malam Jumat selesainya jam 03.00 atau 03.30,” kata Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi yang ditujukan kepada para tamu. Kemudian Mursyiduna Syeikh KH. Saadi Al-Batawi langsung menutup pengajian akbar itu dengan memimpin doa bersama.