Berita

Gembira Dengan Romadhon

Semarang, 20/05/2017. Suatu ketika di bulan Romadhon, Mursyiduna Syeikh KH. Saadih Al Batawi duduk di sebuah warung kelontong di pinggir jalan.  Selang beberapa lama, datanglah seorang ibu dengan dua anaknya, satu anak dalam gendongan dan satu lagi kakaknya dituntun. Ibu itu membeli 2 bungkus mie instan dan sebutir telur. “Kok beli cuma 2 bungkus saja bu? emang untuk apa mienya?” tanya Mursyiduna. ” Ya untuk buka ntar sore dan satu lagi untuk sahur, pak haji,” sahut ibu itu tanpa dia tahu siapa orang yang bertanya itu. Mendengar jawaban ibu itu Mursyid langsung meminta pemilik warung untuk memberi ibu itu 2 duz mie instans dan 2 kg telur. “Ini bener pak haji?” Ibu itu bertanya dengan nada enggak percaya.  “Ya bener, itu untuk ibu berbuka dan sahur di bulan mulia ini,” sahut Mursyid sambil membayar ke pemilik warung. “Alhamdulillah…..!” ucap ibu itu dengan mata berkaca-kaca. Jika tadi saat datang ke warung ibu itu dengan wajah sendu pulang menenteng telur dengan wajah sumringah. Anak yang tadi dituntun itu tiba-tiba jadi bersemangat memikul satu dus mie berjalan di depan ibunya.

Kisah ini disampaikan Ust. Edi Cahyanto, SAg di depan jemaah  Pengajian Akbar di kawasan Weleri, Jawa Tengah, Ahad pagi (20/05). Kisah ini diceritakan  untuk.menjelaskan makna Gembira dengan kedatangan bulan Romadhon. “Sebagaimana mursyid kita ajarkan bahwa gembira dengan Romadhon itu tidak sekedar kita gembira sendirian, tetapi bagaimana kita bisa menggembirakan orang lain. Sehingga Romadhon itu adalah bulan yang menggembirakan semua orang, terutama untuk para dhuafa’ dan yatim,” urai Ust. Edi.

Ust. Edi melanjutkan, jika dengan satu amaliah saja  kita  bisa membuat orang gembira maka ada berapa banyak kegembiraan di situ. Dari ibu yang gembira tadi, anaknya pasti gembira. Pulang ke rumah anggota keluarganya juga gembira. Pemilik warung gembira karena barangnya dibeli. Untuk kita tidak usah ditanya, kegembiraan yang kembali kepada kita akan berlipat-lipat. Boleh jadi, kita jarang mendapatkan kegembiraan karena kita jarang membuat orang lain gembira. Sehingga masuk bulan Romadhon suasana hati kita biasa-biasa saja.  “Mursyiduna, KH. Saadih AlBatawi, paling satu minggu awal saja beliau ada di rumah. Selebihnya kita jarang mendapati beliau ada di rumah. Kemana beliau? Beliau sedang bergembira dengan Romadhon.” jelas Ust. Edi.

Di Kesempatan lain, lanjut Ust. Edi, satu hari menjelang lebaran Mursyiduna berkeliling dengan motor trailnya. Tiba-tiba beliau berpapasan dengan seorang nenek menjunjung jualannya, berupa beberapa ikat Genjer. Ini enggak lazim, satu hari jelang lebaran biasanya orang jualan daging atau ayam.  Mursyid pun langsung bertanya,

“Hari gini kok jualan genjer, Nek? emang ada yang beli?” Mendapat pertanyaan bernada meragukan itu, Sang Nenek menjawab spontan,” Ikhtiar kan harus Pak Haji, soal gimana hasilnya serahkan saja pada Allah.” Tak urung mendengar jawaban nenek itu, membuat Mursyid menyembunyikan rasa terharunya  karena nenek itu memiliki tauhid yang luar biasa.

“Berapa harga seiket?,” tanya Mursyiduna.

” lima rebu..,”

” Ada berapa semua?”

” Sepuluh..”

” Ya udah saya beli semua. Nih uangnya..!” Mursyid menyerahkan  10 lembar uang pecahan Rp.100 ribu.

“Banyak sekali pak haji..?” kata Nenek itu tidak percaya dan belum mau menerima uang itu. Tapi Mursyid meyakinkan kalau uang itu adalah uang yang dibayar untuk 10 ikat genjernya. Tangan nenek itu gemetar membuat uang itu jatuh berserakan ke tanah. Lalu dia memungut uang itu sambil mulutnya tidak berhenti membaca Takbir dan  lafaz Hamdalah.  Nenek itu ternyata memiliki 4 orang cucu di rumahnya yang yatim piatu. Dia pulang dan pamit dan berkata akan membuat cucu-cucunya senang  dengan membeli baju baru  dan kue lebaran.

Pengajian Akbar  di Weleri itu adalah salah satu dari 4 daerah binaan dari majelis Dzikir Assamawaat Sub Distrik Semarang yang mengadakan kajian rutin sepanjang hari Ahad itu,  Welleri, Bergota, Wolter Aminginsidi dan Bawen.  Bersama dengan pengurus Sub distrik Semarang, Ust. Edi Cahyanto berkeliling menemui para jemaah yang dimulai dari pagi hingga malam hari.  Seperti biasanya di setiap kajian Assamawaat diawali dengan santunan anak yatim dari oleh jemaah setempat.  Santunan untuk menbuat gembira yang menerima dan menggembirakan yang melakukannya. (Red)

Jemaah Pengajian itu adalah binaan dari Pak Bambang Nugroho dan Muhammad Amin, jemaah Assamawaat.