Malam jumat

DZIKIR DALAM MENUAI MAKRIFAT

(Kajian Malam Jumat Syaikh KH. Sa’adih al-Batawi; 20-07-2017)

Oleh: Ust. Abdul Ghofur

 

Salah satu permasalahan urgent yang menjadi pembahasan dalam dunia Islam saat ini di tengah gemerlapan dunia dan hedonism adalah sebuah pencapaian dalam pendakian. Sebuah dinamika pergulatan pencapaian yang harus manusia capai ketika ingin mengenal Allah adalah Makrifat kepada Allah melalui sebuah upaya Riyadhoh bagi para pencari ridho Allah. Makrifat sebagaimana yang disampaikan berkali-kali oleh Syaikh KH. Sa’adi Al-Batawi bahwa tidak akan pernah sampai seseorang kepada tingkatan ini kecuali dalam dirinya telah melekat sifat-sifat Allah. Dan sifat-sifat ini mustahil diraih tanpa adanya akhlaq yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Berdzikir dalam konteks lahir batin adalah sebuah aplikasi, baik bil lisan, bil qalbi maupun bil arqan. Sebuah kritik bagi kita bahwa munculnya majelis-majelis dzikir bukan melahirkan sesuatu yang baik dengan ditandai nilai-nilai aplikatif yang dapat dirasakan kebaikanya di masyarakat, namun hanya sebuah ceremonial, terbukti tidak adanya peningkatan akhlaq karimah dalam kehidupanya dan kita sangat bersyukur kepada Allah dalam laboratorium As-Samawaat kita saling mengingatkan dalam ketaatan dan terus berlomba dalam kebaikan(watawashau bil haq wa tawashaubis-Shobr”. Contoh baik yang bisa kita teladani adalah bagaimana Rasulullah membina dan mendidik Madinah dan Makkah sebagai kota terbaik untuk dijadikan barometer keberhasilan dalam membangun umat melalui pendidikan yang terbaik dari manusia terbaik dan di zaman yang terbaik.

Kemakrifatan tidak akan terwujud tanpa melalui jalan terjal yang harus dilalui, sebuah jalan yang Allah berikan sebagai bentuk ujian. Kuat tidaknya seorang salik menempuhnya tergantung bagaimana dia bertahan dalam ketaatan. Sebagaimana perkataan indah yang pernah disampaikan oleh seorang Sufi terkenal Imam Abu Hasan As-Sadzili :

لاَيَكْمَلُ عَالِمٌ فِي مَقَامِ الْعَالِمِ حَتَّي يُبْلَي بِاَرْبَعِ: شَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ ، وَمَلاَمَةِ اْلأَصْدِقَاءِ ، وَطَعْنِ الْجُهَّالِ ، وَحَسَدِ الْعُلَمَاءِ “Tidak akan sempurna kualitas derajat keilmuan seseorang sampai diuji dengan empat perkara. Dicaci maki oleh musuh-musuhnya, dicela oleh teman-temanya, diolok-olok oleh orang bodoh, dan diiri oleh orang alim lainnya”

            Perkataan indah ini bukan hanya menjadi simbol atau motto dalam dunia tarekat tetapi betul-betul terjadi dan memang begitu adanya. Dihadapkan kita kepada para pencaci, diolok-olok bahkan di iri oleh sebagian yang lain adalah bagian dari cara Allah dalam mengangkat derajat seorang dihadapan Nya.

Di antara permasalahan seorang murid dalam menempuh perjalanan spiritual dalam mengikuti seorang mursyid adalah terkadang terjebak kepada pemikiran-pemikiran negatif terhadap mursyid manakala melihat hal-hal yang menurutnya tidak sesuai dengan akal dan  hati nuraninya. Ini adalah sebuah bencana awal yang akan menimpanya dalam menutup keberkahan ilmu yang didapatnya bahkan hingga membuka pintu terputusnya sebuah wasilah dirinya. Nauzubillah

Permasalahan kita di dalam menjalankan syariat agama adalah soal keyakinan kita kepada Allah. Keyakinan yang bukan hanya pemanis bibir, retorika yang bahkan akan menjebak dirinya dalam kekufuran kepada Allah. Menurut Syaikh KH. Sa’adi bahwa salah satu upaya yang bisa kita lakukan dalam rangka meningkatkan keyakinan kepada Allah adalah menjadi seorang Ahli Dzikir. Senantiasa mengingat Allah dalam berdiri, duduk dan dalam kondisi apa pun. Kondisi ini seharusnya terpatri dalam diri seorang pendaki kapan pun dan di mana pun sehingga rahmat Allah selalu mengiringi langkahnya.

Berbagai metode muncul seiring seorang guru dalam mengajarkan kepada para muridnya, salah satu contoh yang diajarkan oleh Syaikh KH. Sa’adi adalah bagaimana kita memikirkan konsep penciptaan diri kita saat lantunan dzikir kita untaikan. Sebagaimana tesis pertama yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad dalam surat Al-Alaq ayat 1 – 5. Terbayang kuasanya Allah menciptakan manusia dari segumpal darah yang denganya melahirkan makhluq indah seperti kita. Ketika proses mengingat Allah melalui kuasa-Nya itulah maka akan memunculkan sebuah ketundukan dan ketaatan kepada-Nya. Hati menjadi tenang, menerima segala ketentuan Allah dan terus terjaga dalam bingkai mengingat Allah.

Dzikir dalam bingkai makrifat tentu berbeda dengan dzikir yang lahir sebatas lisan, karena dzikir dalam bingkai makrifat memiliki konsekuensi aplikasi kebaikan yang terus menerus. Derajat ini Allah berikan kepada mereka-mereka yang Allah  pilih karena keistiqamahan dalam menuju-Nya. Karena dengan istiqamah yang dimilikinya menjadi salah satu bukti kesungguhan dalam menggapai ridho Allah.

Sebuahungkapan:

اَلْاِسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ كَرَامَةٍ

“Sikap istiqomah itu lebih baik dari pada seribu karomah”.

Mengapa demikian? Karena bisa jadi seseorang yang telah memiliki banyak karomah kemudian tidak istiqamah maka akan tergoda dan stag pada tingkatan tertentu yang akhirnya lupa kepada tujuan utamanya yaitu Allah SWT. Berbeda sekali ketika seseorang yang telah istiqamah, denganya akan muncul keseriusan dalam beribadah tanpa mempedulikan kelebihan-kelebihan yang Allah berikan kepadanya, karena bagi orang tersebut sesungguhnya tujuan utama ketika beribadah adalah menggapai ridho Allah dan bukan mencari kesaktian atau kelebihan-kelebihan. Sebagaimana kisah seorang sufi yang ditanya oleh muridnya tentang kelebihan seseorang bahwa orang tersebut mampu terbang maka jawaban sang guru adalah “burung juga bisa terbang, apa hebatnya?”. Ketika sang murid menjelaskan bahwa orang tersebut bisa berjalan diatas air maka sang guru pun mengatakan “ikan pun bisa bahkan masuk kedalamnya”. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya kemulian seorang hamba disisi Allah bukanlah ditentukan sebanyak apa karomah yang dimilikinya namun seberapa taqwa dan istiqamahnya di sisi Allah.

Dzikir Dzat yang diajarkan menjadi pintu sentuhan-sentuhan Rububiyyah sebagai pintu masuknya ilmu dan hikmah seseorang, bagaimana dengan dzikir ini mampu mencerdaskan hati (spiritual). Betapa banyak manusia yang cerdas secara inteletual tetapi tidak secara spiritual, namun jika Allah telah berikan kecerdasan spiritual seseorang maka sudah tentu Allah akan berikan juga kecerdasan intelektual. Terbukti banyak para pemikir Islam ketika menemukan kebuntuan dalam berfikir maka meraka melakukan sholat dan bermunajat kepada Allah hingga Allah buka pintu kemudahan untuk menorehkan setiap untaian hikmah dan ilmu untuk kepentingan masyarakat luas.

Kebiasaan yang sering dilakukan oleh Syaikh KH. Sa’adi ketika berada di Tanjung Burung adalah terus menggali hikmah-hikmah melalui proses pendidikan yang Allah ajarkan kepadanya. Keindahan yang muncul, kemuliaan yang Allah berikan kepada seorang hamba tentu tiada lengkap jika tanpa di isi dengan sekumpulan manusia yang bersama-sama dalam ketaatan menuju dan berjalan kepada Allah SWT. Bahkan kebahagiaan hakiki bagi seorang guru adalah mampu mengantarkan para muridnya menjadi manusia-manusia bertaqwa kepada Allah. Kita menyadari bahwa untuk menjadi manusia bertaqwa bukanlah jalan yang mudah, tetapi jika kita bersama-sama dan atas bimbingan Allah melalui seorang Mursyid yang benar InsyaAllah kita akan sampai kepada titik kemuliaan yaitu bermakrifat kepada Allah SWT. Berbeda manakala kita menuju Allah tanpa kawan yang mengingatkan, tanpa Guru yang membimbing dan tanpa ilmu yang menjadi hujjah atas kebenaran maka kesesatan sangat berpotensi menerpa dirinya. Jika manusia tersesat pada tataran fiqih, sungguh mudah untuk kembali kepada jalan kebenaran tetapi jika sudah tersesat pada tataran batiniah maka sungguh ini adalah bencana terbesar dalam kehidupan manusia. Karena bisa jadi seseorang merasa sudah banyak ibadahnya, sudah baik amaliahnya dan sudah mencapai ketaqwaan tetapi sesungguhnya itu hanya tipuan belaka dikarenakan didalam hatinya terdapat penyakit hati berupa hasad, sombong, iri dan segala macam penyakit lainya. Maka dengan berdzikir kita berupaya untuk mencoba mengikis penyakit-penyakit ini dengan terus berusaha istiqamah meraih ampunan dan keberkahan dari Allah SWT.[]