Berita

Gema Muharrom Dan Santunan Anak Yatim di Pulau Untung Jawa

Kep. Seribu, 30/09/2017.  Azan Subuh belum  lama menggema, Sholat Subuh baru saja usai ditunai.  Suasana pun masih gelap. Namun  pelabuhan Tanjung Pasir sudah dipenuhi oleh orang-orang berpakaian putih-putih.  Mereka itu adalah jemaah majelis Zikir Assamawaat yang akan menyeberang ke Pulau Untung Jawa,  salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu, tempat pelaksanaan Gema 10 Muharram 1439 H, kerjasama antara  warga p. Untung Jawa dengan Majelis Zikir Assamawaat AlMaliky.  18 kapal disiapkan panitia untuk menyeberangkan jemaah. Belum termasuk beberapa kapal lain yg digunakan untuk mengangkut perlengkapan dan logistik.  “Kita sudah kerjasama dengan pengelola kapal sejak jauh-jauh hari. Alhamdulillah mereka antusias dan kitapun senang karena jemaah kita semua terangkut dengan baik,” kata Sopian Hamim, Ketua Panitia. 

Sekitar 1.500 jemaah hadir dalam acara yang diselenggarakan di gedung pertemuan Kel. Pulau Untung Jawa itu.  Acara inti dimulai seiring dengan kapal terakhir yang tiba di pelabuhan Pulau Untung Jawa pada pukul 09.25 WIB.

Pimpinan Majelis Zikir Assamawaat, Syaikh KH.Saadi AlBatawy dalam tausiyahnya menjelaskan  tentang sejarah penamaan Pulau Untung Jawa. “Pulau ini, dulunya adalah pendaratan terakhir pasukan dari Jawa tepatnya dari Cirebon, sebelum penyerangan terhadap Belanda di Banten,” jelasnya.  Pulau ini, kata Kyai Saadi memberikan keuntungan bagi pasukan dari Jawa itu untuk mengatur strategi.  Karena sering diucapkan kemudian pulau itu disebut pulau Untung Jawa. Pasukan dari Jawa itu dikirim oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon, yang dipimpin oleh mantunya Sultan Hasanuddin, yang kemudian menetap di Banten hingga akhir hayatnya. 

“Terus apa untungnya bagi kita memperingati 10 muharrom ini?” tanya Kyai Saadi. Sekarang, menurutnya tidak banyak lagi orang mengingat ada apa di 10 Muharram. Padahal di tanggal ini banyak peristiwa besar di masa lampau yang bisa dijadikan pelajaran untuk kita hari ini. 

“Untuk tahu kita untung atau tidak, harus kita hitung apa yang yang telah kita lakukan sejak dari masa akil baligh sampai sekarang,” tegas Kyai Saadi. Kalo ternyata banyak defisit maka harus kita cicil dengan cara mengqodlo sholat yang pernah kita tinggalkan. Termasuk mengqodlo sholat dan puasa orang tua kita yang ketinggalan. 

“Kalau ingin selalu untung, nih santuni dan sayangi mereka-mereka ini,” kata Kyai Saadi sambil menunjuk ke arah barisan anak yatim yang duduk di sisi kanan panggung. 

Sebelumnya, Ust, Nurhayadi dalam tausyiah pengantar menjelaskan momen atau peristiwa besar di masa lalu yang terjadi pada tanggal 10 Muharram. “10.Muharram.itu adalah waktu ketika Nabi Nuh alaihissalam turun dari bahteranya, setelah banjir besar surut,” kata Ust. Nurhayadi. 10 Muharram juga, lanjutnya, momen ketika Nabi Yunus AS, keluar dari perut ikan yang menelannya. Nabi Ibrahim AS keluar dari api yang membakar tubuhnya, Fir’aun tenggelam di laut merah setelah mengejar Nabi Musa AS, Qorun ditelan bumi bersama dengan hartanya, dan banyak lagi peristiwa besar yang dikabarkan kepada kita untuk dijadikan pelajaran. 

Hadir dalam acara ini, Lurah Untung Jawa beserta unsur Muspika Kep. Seribu. Acara berakhir sebelum Zuhur yang ditutup dengan doa dan santunan terhadap yatim piatu dari Kep. Seribu. (End)