Artikel

KURBAN DALAM BINGKAI MAKRIFAT

KURBAN DALAM BINGKAI MAKRIFAT

Oleh. Ust. Ghofur, M.A.

Gema takbir menggaung di angkasa, saling kejar bak ombak di lautan yang sedang bertasbih menyebut keagungan Asma Allah. Tahun ini kita bergembira sekaligus bersedih atas apa yang terjadi terhadap kita. Kita  berbahagia, karena hingga detik ini Allah masih berikan kesempatan kepada kita untuk sujud dan rukuk guna mengabdi kepada-Nya dalam suasana syukur dan bahagia. Bersedih, di saat yang sama saudara-saudara seiman kita yang berada Suriah, Palestina, dan yang masih hangat Rohingya dibantai, ditindas, direnggut kebebasannya bahkan dibunuh tanpa belas kasihan. Semoga Allah segera mengangkat penderitaan saudara-saudara dan menggantinya dengan kedamaian dan kesejahteraan.

Suasana Idul Adha di Majelis Dzikir As-Samawaat tahun demi tahun mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Bimbingan dan nasehat dari yang Mulia, Syaikh KH. Sa’adi memacu semangat bagi seluruh komponen untuk terus memperbaiki diri dalam menyempurnakan diri dalam melayani Umat. Pesan penting dari beliau kepada segenap jamaah adalah terus menggali nilai-nilai hakikat dari setiap ibadah yang kita lakukan, terutama memahami substansi ibadah syariat berupa perintah berkurban.

Perintah berkurban pertama kali terjadi kepada anak Nabi Adam AS, Qabil dan Habil, namun secara tegas dan rinci terjadi kepada Nabi Ibrahim AS melalui mimpi. Allah berfirman :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْىَ قَالَ يَبُنَىَّ إِنِّى أَرَى فِى الْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى, قَالَ يَاَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ, سَتَجِدُنِى إِنْ شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّبِرِيْنَ.

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”

Berawal dari peristiwa inilah sebuah peradaban baru dimulai, perintah berkurban diestafetkan kepada generasi penerusnya hingga kepada Nabi Muhammad saw. Perintah berkurban berkesinambungan diberlakukan setiap manusia yang telah memenuhi persyaratan sebagai bentuk penghambaan diri secara totalitas kepada Tuhannya. Implikasi dari perintah ini adalah mampu membuang segala bentuk ego kita demi Dzat Yang Wajib Dipuja, Allah Swt. Karena setiap diri kita adalah (keturunan Nabi) Ibrahim, dan Ibrahim pasti memiliki Ismail. Boleh jadi harta kita adalah Ismail tersebut, anak, istri, jabatan dan semua kepemilikan yang melekat dalam diri kita menjadi Ismail-Ismail kontemporer. Mempersembahkan apa yang kita cintai  untuk kita persembahkan hanya untuk Allah. Mampukah diri kita menjelma menjadi Ibrahim dengan mengorbankan Ismail yang kita miliki untuk Allah sebagai bentuk pengabdian sang hamba kepada Rabbnya?!

Perintah Allah tentang kewajiban bagi umat Islam untuk berkurban tertuang dalam kalimat :

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah),” (Q.S. al-Kautsar: 2).

 

Karena substansi berkurban adalah untuk mendekatkan diri maka berkurban hakikatnya bukan hanya mendekatkan diri kita kepada Allah tapi juga mendekatkan diri kita kepada sesama manusia terutama saudara-saudara kita yang kurang beruntung dibandingkan dengan kita. Maka, sebagai koreksi bagi kita bersama, sudahkan pembagian kurban telah tepat sasaran? Ataukah sebatas pemotongan dan pembagian tanpa makna? Lantas, apa bedanya dengan pesta? Di sinilah kita, bersama sekumpulan manusia dikumpulkan oleh Allah dalam payung Majelis Dzikir As-Samawaat yang dibimbing oleh seorang Mursyid untuk semakin memahami arti pengorbanan yang kita lakukan. Bukan hanya sekedar menyerahkan hewan kurban atau sejumlah uang, tapi diajarkan mampu menanggalkan baju-baju kehormatan kita untuk berkunjung dan menyapa secara langsung saudara seiman kita di pelosok-pelosok desa tertinggal. Mereka yang telah mendapatkan gelar ustad, dokter, dosen, manager, kyai bahkan kuli bersama-sama mendatangi kerumah-rumah sebagai bentuk penyatuan rasa, manunggal dalam sifat-sifat Ketuhanan. Ketika sifat-sifat ke-aku-an telah sirna dalam diri dan menyatu dalam sifat Tuhan, maka Allah akan karuniakan dalam dirinya berupa lautan hikmah dan kebijaksanaan dalam dirinya sebagai manifestasi sifat-sifat Allah.

Dari beberapa point tulisan ini, dapat kita simpulkan pertama bahwa hakikat ibadah kurban bukan semata-mata terdapat pada penyembelihan hewan, tetapi kepada ketaatan dan kepatuhan secara total dan loyal kepada Allah semata, tanpa kepentingan dan niat selain Allah. Kedua, mendidik kita untuk lebih peka terhadap hak-hak saudara kita yang hidup dalam kekurangan dan penderitaan sebagai substansi ajaran Rasulullah yaitu menjadi manusia-manusia yang mampu menebar kasih sayang kepada alam sekitar.

Harapan kita, semoga Allah terus bimbing kita melalui Mursyid yang telah bermakrifat, terbimbing untuk terus mendekat, kepada Tuhan Yang Mahahakiki dan terhindar dari godaan setan yang terlaknat. Semoga tulisan ini bermanfaat. Amin! []