Berita

Tausyiah Hijriah dan Kebangsaan (Ummat Islam Harus Fokus membangun Akidah)

Ummat Islam Harus Fokus membangun Akidah

   

JAKARTA, 7/10/2017. Situasi negara yang gaduh saat ini membuat banyak orang bingung harus berbuat apa. Jangankan untuk melakukan sesuatu, situasinya sendiri rakyat awam banyak yang tidak faham. Keadaan seperti berbalik, orang yang baik dijadikan tersangka tetapi ada orang yang melanggar justru bebas dan baik-baik saja. Nilai moral dan etika tidak ada lagi contohnya. Kebaikan dan kesantunan sudah kehilangan teladan Pelanggaran dan keburukan menjadi sah-sah saja jika dilakukan oleh mereka yang punya materi dan kuasa. Sebaliknya kesalahan kecil yang dilakukan para jelata seolah menjadi kasus hukum yang luar biasa. 

Dalam situasi seperti ini, Pemimpin Majelis Dzikir Assamawaat, KH. Sa’adih AlBatawi menyarankan agar ummat Islam fokus membangun Akidah dan mental spiritual. Hal itu disampaikannya dalam  acara Tausyiah Hijriah dan Kebangsaan, di mesjid Mifathus Salam, Perumahan Kodam Jaya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu petang. (7/10/17).  Acara ini dalam rangka Gema Muharram dan Ulang tahun TNI ke 72. 

“Kekuatan ummat itu terletak pada aqidah dan mental spiritualnya. Maka fokus saja membangun hal ini. Kondisi dan situasi apa saja akan mudah dihadapi jika ummat memiliki aqidah yang kokoh dan mental spiritualnya kuat,” tegas KH. Sa’adih. Perubahan dan goncangan-goncangan zaman akan selalu terjadi sepanjang masa. Tapi selama kita memiliki aqidah yang kuat, maka perubahan dan goncangan itu bisa dihadapi dan dilalui dengan selamat. Masalahnya bukan terletak pada perubahan atau keadaan di luar sana,  tetapi bagaimana kita mempersiapkan mental spiritual yang kuat dalam pribadi ummat. 

Sa’adih meminta agar ummat Islam menghargai apa yang telah dilakukan oleh TNI dan Polri. “Tidak usah terlalu banyak mencampuri pekerjaan yang dilakukan aparat, biarkan mereka melaksanakan kewajibannya,” pinta KH Sa’adih. Agar ummat Islam tidak kehilangan fokus terhadap masalah utama apa yang harus dilakukan  Dalam situasi hari ini. 

Sementara itu, pembicara lain dalam acara itu, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein, menggambarkan situasi hari ini dengan beragam permasalahan dan ancaman. Ancaman secara politik,ideologi, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan.

“Politik kita adalah musyawarah untuk mufakat, ekonomi kita gotong royong, sosial kita saling tolong-menolong, budaya kita adalah menjaga diri,” ujar Kivlan.

Ideologi indivedualisme dan komunisme, lanjut Kivlan adalah ancaman serius terhadap bangsa kita. Maraknya kegiatan seperti simposium, diskusi yang berbau komunisme dan simbol-simbol yang mereka usung menunjukkan bahwa ancaman komunisme sudah si depan mata. Sebagai sebuah bangsa,  kata Kivlan kita harus siap menghadapinya. 

Dalam acara yang diselenggarakan Remaja Mesjid Miftahussalam itu,  kedua pembicara mengajak agar ummat Islam memperkuat barisan untuk menghadapi keadaan ini. Jendral Kivlan meminta agar generasi muda memahami sejarah bangsa agar tidak mudah terkena agitasi dan propaganda ideologi yang bertentangan dengan ideologi dan kepribadian bangsa. 

Sementara Kyai Sa’adih menekankan,  agar ummat Islam memperkuat Aqidah dan mental spiritual. Sejarah di masa lalu membuktikan, bahwa mereka yang memiliki Aqidah dan mental spiritual yang kuat yang bisa menyelamatkan bangsa dan negara ini.  Kyai Sa’adih kemudian mengajak semua hadirin untuk menyaksikan pemberian bantuan dari Majelis Dzikir Assamawaat, kepada takmir mesjid Miftahussalam. 

“Mudah-mudah dengan uang ini, semua kita yang hadir dan orang-orang tua kita baik yang masih hidup dan yang sudah meninggal mendapat bagian pahala dan keberkahannya,” katanya mengakhiri. (End)