Kajian Malam minggu

MENGGAPAI DERAJAT SABAR DAN SYUKUR

MENGGAPAI DERAJAT SABAR DAN SYUKUR

(Kajian Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi Malam Ahad/Minggu)

Disarikan oleh. Ust. Abdul Ghofur, M.A.

Allah Swt. berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنْ الأَمْوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ* الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, (yang artinya),‘Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya kami kepada-Nya kembali,’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-156).


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan,‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’,” (Q.S. Ibrahim: 7).

            Perjalanan hidup manusia disadari atau tidak memiliki konsekuensi yang pasti, keinginan untuk mendapatkan kebahagiaan atau sebaliknya tergantung kepada pelakunya masing-masing. Kehidupan bisa mudah atau sulit tergantung kepada sisi kefokusannya dan titik prioritasnya. Untuk mendapatkan kebahagiaan, manusia tidak semata-mata tergantung kepada kebutuhan atau gaya hidup namun terletak kepada nilai syukur yang dimilikinya. Seberapapun harta yang dimiliki manusia tidak pernah cukup untuk memuaskan gaya hidup, tetapi sebaliknya harta yang sedikit secara kuantitas tetapi cukup untuk sebagian orang karena terdapat keberkahan didalamnya. Semuanya tergantung kepada menejemen diri, apakah mensyukuri nikmat-nikmat Allah atau sebaliknya menjadi hamba yang kufur terhadap nikmat yang Allah telah berikan kepadanya.

            Manusia-manusia terdahulu sebagai lokus suri tauladan bagi manusia sesudahnya, perjalanan hidup yang mereka lakukan hampir bersakit-sakit dalam perjuangan tetapi ditutup dengan kebahagiaan dan memperoleh kemuliaan dengan diangkatnya derajat disisi Allah. Contoh ini bisa dimanfaatkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berfikir karena dengan mengambil pelajaran dapat mempermudah dalam proses menyempurnakan diri dihadapan Allah SWT.

            Bulan Dzulhijjah datang berkali-kali sebagai media untuk mengingatkan kita kepada the golden three angel. Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail adalah sosok yang  berkali-kali dijadikan simbol kesuksesan manusia dihadapan Allah, sehingga apa yang telah ditorehkan dalam sejarah dijadikan sebuah ritual ibadah oleh umat setelahnya yang kemudian disempurnakan oleh Nabi terakhir Muhammad SAW. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sebagai pengejawantahan dari apa yang dilakukan oleh The Golden Three Angel yang memiliki substansi sebuah perjuangan dan pengorbanan terbaik yang dipersembahkan untuk Allah SWT.

            Kesadaran seorang Ibrahim atas segala apa yang ada dilangit dan bumi hanya milik Allah menjadikan total dalam mempersembahkan segala sesuatu untuk Allah, jangankan harta dan kehidupannya anak yang menjadi kecintaannyapun bisa dipersembahkan untuk Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 2 yang artinya : “Allah yang memiliki apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Celakalah bagi orang yang ingkar kepada Tuhan karena siksaan yang berat”. Pengetahuan Ibrahim dan keluarganya inilah menjadikan mereka sami’na wa atha’na terhadap perintah-perintah Allah kepadanya.

            Keteladanan dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimas-Salam terekam jelas dalam Al-Quran sebagai sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik dari keduanya. Alalh berfirman,

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ (99) رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

Dan Ibrahim berkata,‘Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.’ Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Tatkala anak (Nabi Ismail) itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata,‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu,maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia (Nabi Ismail) menjawab,‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, Kami memanggilnya,‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.’ Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu):‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman,” (Q.S. Ash-Shaaffaat: 99-111)

            Kesabaran Ibrahim dalam menjalani kehidupan mulai dari awal perjuanganya hingga akhir patut dijadikan motivasi untuk meningkatkan kualitas diri. Kesabarannya saat menunggu momongan bertahun-tahun yang akhirnya dijawab oleh Allah yaitu perintah untuk menikahi pembantu yang sudah hidup bertahun-tahun bersamanya. Ibunda Siti Hajar, sekalipun memiliki fisik yang tidak secantik Siti Sarah namun darinya Allah berikan Ismail yang akan melanjutkan estafet kenabian darinya. Pun demikian dengan Ismail, kesabaran dan kepasrahan yang dimilikinya adalah warisan dari ayahnya, pengetahuan Ismail atas perjuangan ayahnya menjadikan dirinya pasrah atas apa yang akan ditimpakan kepadanya.

            Ketika Ismail diberitakan akan disembelih oleh ayahnya, maka jawaban yang luar biasa yang keluar darinya adalah “Wahai ayahku, lakukan apa yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu. Sesungguhnya engkau akan mendapatiku termasuk orang yang bersabar.” Apa yang dilakukan oleh Ismail atas apa yang akan terjadi kepadanya membuktikan bahwa ketundukan dan kepasrahan telah dimilikinya, tentu ini berkat limpahan dari Rahmat Allah. Salah satu rahasia yang jarang diketahui adalah bahwa ketika Ismail akan disembelih beliau sudah memasuki Aqil baligh, yang artinya bahwa beliau telah mampu membedakan mana yang baik dan buruk, tetapi bukan menjadikan dirinya memberontak atau menolak perintah ayahnya, namun justru sebaliknya. Pribadi yang matang sebelum tiba waktunya terbentuk karena proses pembinaan karakter yang dilakukan oleh ibunda Siti Hajar beserta Ibrahim dalam keluarganya. Karakter ketakwaan yang dicontohkan Ibrahim kepadanya menjadikan pribadi Ismail semakin matang, karena keberhasilan Ismail dalam kesabaran menjadikan dia lulus dan berakhir kepada kesyukuran kepada Allah. Prestasi yang dimiliki Ibrahim beserta keluargannya adalah sebuah prestasi Ilahiah yang tidak didapatkan oleh sembarang manusia, karena prestasi tersebut menjadi kebanggaan dan pelajaran bagi manusia seluruh dunia dan kita termasuk orang-orang yang membanggakan kepribadian dan karakter yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS.[]

 

About the author

IT & Dokumentasi Assamawaat