Artikel

MASJID AS-SAMAWAAT: Napak Tilas Perjuangan Rasulullah dan Para Auliyaillah

MASJID AS-SAMAWAAT:

Napak Tilas Perjuangan Rasulullah dan Para Auliyaillah

A. DEFINISI MASJID

Dalam bahasa Indonesia, kata “masjid” merupakan kata serapan dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab sendiri kata “masjid” merupakan derivasi (bentukan) dari kata “sajada – yasjudu”.  

Masjid (مَسْجِدٌ) dengan huruf Jim yang dikasrahkan adalah tempat khusus yang disediakan untuk shalat lima waktu, sedangkan jika yang dimaksud adalah tempat meletakkan dahi ketika sujud maka huruf Jim-nya berharakat fathah(مَسْجَدٌ).

Secara bahasa, kata masjid (مَسْجِدٌ) adalah tempat yang dipakai untuk bersujud. Kemudian maknanya meluas menjadi bangunan khusus yang dijadikan orang-orang untuk tempat berkumpul menunaikan shalat berjama’ah. Istilah masjid menurut syara’ adalah tempat yang disediakan untuk shalat di dalamnya dan sifatnya tetap, bukan untuk sementara [4].

Pada sejumlah masjid kita temukan kata “jami’” (جَامِعُ) sebagai kata tambahan dari kata “masjid”. Kata al-Jaami’ ini (اَلْجَامِعُ) adalah sifat dari masjid al-masjid (اَلْمَسْجِدُ). Disifati demikian karena masjid adalah tempat yang dapat menghimpun umat Islam atau kaum muslimin. Berdasarkan hal ini maka orang-orang terbiasa mengatakannya: اَلْمَسْجِدُ الْجَامِعُ (dengan susunan shifat dan maushuf-nya). Namun, polanya boleh juga berbentuk: masjid al-Jaami’ (مَسْجِدُ الْجَامِع) dengan susunan idhafat (susunan mudhaf dengan mudhaf ilaih-nya) yang bermakna مَسْجِدُ الْيَوْمِ الْجَامِعُ : tempat orang bersujud (shalat) di hari mereka berkumpul, yaitu hari Jumat. Dan, istilah masjid jami’(اَلْمَسْجِدُ الْجَامِعُ) atau (مَسْجِدُ الْجَامِع) digunakan untuk masjid yang dipakai untuk shalat Jumat, sekalipun masjid itu kecil, asalkan orang-orang berkumpul di waktu yang diketahui (hari Jumat) untuk shalat Jumat.

 

B. PERANAN MASJID PADA MASA RASULULLAH

Ketika Rasulullah SAW. berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma. Dari sana beliau membangun masjid yang besar, membangun dunia ini, sehingga kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah. Seperti namanya, Madinah  memliki arti harfiahnya adalah “tempat peradaban”, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia.

Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW adalah Masjid Quba’, kemudian disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid yang dijuluki Allah sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa (QS. Al-Taubah [9]: 108), yang jelas bahwa keduanya—Masjid Quba dan Masjid Nabawi—dibangun atas dasar ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan dan fungsi seperti itu. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka sebut masjid, dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan fungsi masjid yang sebenarnya, yakni ketakwaan. Al-Quran melukiskan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut,

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin, serta menunggu/mengamat-amati kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu,” (QS. Al-Taubah [9]: 107).

Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya, sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat  tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu:

  • Tempat ibadah (shalat, dzikir).
  • Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).
  • Tempat pendidikan.
  • Tempat santunan sosial.
  • Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
  • Tempat pengobatan para korban perang.
  • Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
  • Aula dan tempat menerima tamu.
  • Tempat menawan tahanan, dan
  • Pusat penerangan atau pembelaan agama.

 

C. KEUTAMAAN MEMBANGUN MASJID WALAU HANYA SATU BATA

Karena peranan masjid yang begitu besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. dan juga kehidupan keberagamaan kaum muslimin, maka tidak heran kalau kita menemukan banyak sekali anjuran hadist Rasulullah SAW. yang mengajak kita untuk turut berperan aktif dalam mendirikannya.

Di antara sekian hadistnya adalah sabda Rasulullah SAW berikut:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid (karena mengharap wajah/ridha Allah), maka Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga,” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan).

Lebih tegas lagi Rasulullah SAW. Menjelaskan,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau bahkan lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mafhash qathaah dalam hadits artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya dan menderum di tempat tesebut. Dan qathah adalah sejenis burung.

Sebagian ulama menjelaskan, maksud hadist tersebut yaitu bahwa siapa yang andil membangun masjid meski dengan bagian kecil seukuran tempat burung bertelur; atau bisa jadi caranya, yaitu para jama’ah bekerja sama untuk membangun masjid dan setiap orang punya bagian kecil seukuran tempat burung bertelur; ini semua masuk dalam istilah membangun masjid. Karena, bentuk akhirnya adalah suatu masjid dalam benak kita, yaitu tempat untuk kita shalat.

Berarti penjelasan ulama di atas menunjukkan bahwa jika ada yang menyumbang satu sak semen saja, atau bahkan menyumbang satu bata saja, maka ia sudah mendapatkan pahala untuk membangun masjid. Masya Allah….

 

D. MASJID AS-SAMAWAAT: PERJUANGAN SANG MURSYID DALAM MENELADANI RASULULLAH DAN WARISAN GENERASI IMPIAN

Karena peranan masjid yang begitu besar dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. dan bagi  kepentingan umat Islam, maka ini pula yang menggerakkan Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi dalam pendirian Masjid As-Samawaat. Bagi beliau, Masjid As-Samawaat merupakan sebuah masjid yang menjadi pusat peradaban umat Islam di era modern, sekaligus sebagai warisan generasi impian Al-Quran di masa depan.

Bukan hanya di masa Rasulullah saja, di masa para khalifah umat Islam termasuk di masa auliyaillah (para wali Allah), masjid memiliki peranan yang sangat berarti bagi kehidupan umat Islam.  Pada masa kini kita dapat melihatnya sendiri dari warisan-warisan yang ditinggalkan mereka, seperti Masjid Agung Banten peninggalan Syaikh Sultan Hasanuddin dan Masjid Agung Demak peninggalan Syaikh Raden Patah dan para Wali Songo, warisan berharga yang tak akan pernah usang ditelan zaman.  

Perjuangan Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi dalam membina umat selama kurang lebih 25 tahun penuh dengan lika-likunya dan rintangan yang tidak sedikit. Tanpa pernah mengenal kata lelah beliau terus berdakwah demi meraih ridha Allah dan meneladani Rasul-Nya. Dan, salah satu wilayah binaan Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi adalah di pesisir pantai Tanjung Burung, tepatnya di Desa Kohod, Kampung Alar, Kecamatan Paku Haji, Tangerang Banten, tempat di mana Masjid As-Samawaat didirikan. Inilah salah satu desa yang menjadi saksi betapa beratnya perjuangan Syaikh KH. Sa’adih dalam membina umat. Perjuangan yang bukan hanya menguras tenaga dan pikiran, tetapi juga mengorbankan banyak harta bahkan mempertaruhkan nyawa beliau. Sebagaimana dituturkan oleh beliau langsung dan disaksikan oleh para murid generasi awal serta orang-orang terdekatnya, saat beliau berdakwah pertama kali di pesisir pantai, rintangan dan cobaan terus datang tak pernah berhenti. Bahkan, dalam suatu kesempatan majelis beliau di Tanjung Burung nyaris dirobohkan oleh penduduk sekitar yang masih senang main sabung ayam. Para penduduk tidak senang dengan keberadaan majelis karena dapat mengganggu hobi mereka dalam bermain judi. Bukan hanya itu, karena kebencian yang sedemikian besar di dalam hati penduduk sekitar, Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi pun pernah ingin dikeroyok mereka. Namun, beliau tetap teguh dalam menyebarkan agama Allah tanpa merasa gentar. Beliau pun tetap menyantuni penduduk sekitar secara rutin meskipun diperlakukan kurang manusiawi.  

Kini desa itu telah berubah. Desa yang dulunya gelap suram, beralih menjadi desa yang terang bercahaya. Desa yang dulunya terbelakang, berubah menjadi desa yang berpendidikan penuh peradaban. Perjuangan itu telah berbuah manis. Perjuangan itu telah bisa dinikmati. Namun, perjuangan dakwah menyebarkan agama Islam dan meneladani sunah Rasulullah tidaklah berhenti sampai di sini. Ini merupakan termasuk langkah awal. Cita-cita mulia dan besar masih terus dikobarkan demi generasi impian para pecinta dan pengamal Al-Quran.

Oleh karena cita-cita mulia tersebut, maka  hadirlah Masjid As-Samawaat sebagai buah manis dari perjuangan Syaikh KH. Sa’adih Al-Batawi dan melanjutkan tongkat estafet perjuangan para auliayillah. Pada hari Ahad, tanggal 22 Oktober 2017, bertepatan dengan tanggal 2 Shafar 1439 Hijriyah, dilangsungkan peletakkan batu pertama Masjid As-Samawaat, yang menandakan masjid tersebut telah dimulai pembangunannya.

 

E. MELANGKAH BERSAMA SANG MURSYID DEMI MERAIH RIDHA ILAHI

Perjuangan yang telah dilakukan oleh Syaikh KH. Sa’adih dalam menyebarkan agama Allah dan mengamalkan sunah-sunah Rasul-Nya tanpa pernah mengenal kata lelah dan tanpa menghitung dengan pundi-pundi rupiah, membuat para muridnya semakin yakin untuk mengikuti jejak beliau menjalankan agama dan mengamalkan sunah Rasul. Terlebih, di era modern yang semuanya kerap kali diukur dengan materi, ketika berdakwah beliau terapkan malah yang sebaliknya. Dalam event-event dakwah dan ceramah-ceramah, yang beliau justru sering kali mengeluarkan uangnya sendiri untuk sumbangan dan santunan yatim demi tegaknya agama Allah di muka bumi. Bukan hanya ini yang membuat para murid yakin kepada beliau, pertemuan beliau dengan sejumlah ulama dunia wabil khushush dengan Sayyid Abbas bin Alawi Al-Maliki yang memberikan beliau ijazah dakwah membawa nama Al-Maliki,  membuat para murid semakin yakin untuk melangkah bersama beliau sebagai seorang mursyid demi meraih ridha Ilahi.

Masjid As-Samawaat merupakan kesempatan para murid untuk berjuang dan berkorban bersama-sama Sang Mursyid dalam membekali diri dengan iman dan amal sebagai bentuk rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. (red.).