Artikel

KHALWAT DALAM BALUTAN MAKRIFAT

KHALWAT DALAM BALUTAN MAKRIFAT

Oleh: Ust. Abdul Ghofur, M.A.

​Sejenak kita berhenti dari perjalanan, perjalanan mengejar keindahan dunia. Terbuai dalam nikmat dan riuhnya kegemerlapan dunia. Hidup dalam hedonis, terkangkangi rayuan dan bujukan nafsu syahwat tanpa mempedulikan dunia dibalik makna, yaitu akhirat. Semakin dekat kepada dunia maka semakin jauh dari akhirat. Sebuah hukum positif yang tidak terbantahkan. Perjalanan para Nabi dan Rasul tidak dapat dipisahkan dengan sebuah perjalanan khalwat, sebuah perjalanan spiritual yang dilalui mereka dengan beragam cara dan metode yang berbeda. Nabi Musa berkhalwat di Bukit Tursina selama 40 hari, Nabi Yunus di perut Ikan, Nabi Yusuf dipenjara, dan semua para Nabi memiliki bentuk khalwat yang berbeda termasuk didalamnya Nabi Muhammad saw., yang diperintahkan oleh Allah untuk berkhalwat di Gua Hira’ selama berbulan-bulan untuk mendapatkan wahyu dan bimbingan dari Allah Swt.

​Khalwat dalam perspektif syariat adalah menjalin kemesraan bersama kekasihnya, dengan seseorang yang menjadi pujaannya. Tentu hal ini adalah sesuatu yang terlarang jika belum sah dalam pandangan agama. Khalwat bagi sebagian masyarakat dianggap sesuatu yang tabu karena pemahaman terhada predaksi ini yang mengacu kepada pemahaman syariat. Sementara khalwat bagi kaum mutashawwifin (praktisi tasawuf) adalah sesuatu yang sangat dinantikan, yaitu bagi mereka yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya. Sebagaimana perkataan Imam An-Nawawi:

الْخَلْوَةُ شَأْنُ الصَّالِحِينَ وَعِبَادِ اللَّهِ الْعَارِفِينَ

“Khalwat adalah kebutuhan orang-orang shalih dan hamba-hamba Allah yang Arif”

Banyak riwayat pelarangan tentang khalwat yang didasarkan pada makna lahiriah, yaitu perbuatan yang melibatkan dua manusia yang bukan sejenis dan bukan pula mahram yang mengakibatkan sesuatu yang terlarang. Nabi bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الانْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Jauhilah masuk (kerumah) wanita (sendirian)”. Maka seorang sahabat Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan laki-laki keluarga dekat suaminya (ipar)?” Rasulullah menjawab, “Laki-laki keluarga dekat suami (ipar) itu kematian (berbahaya)!” (HR. Bukhari nomor 4831, dari ‘Uqbahibn ‘Amir).

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوَنَّ بِامْرَأَةٍ لَيْسَ مَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir janganlah berkhalwat dengan seorang wanita tanpa mahramnya (wanita tersebut) karena yang ketiga adalah setan,” (HR. Ahmad No. 14124, dari Jabir bin Abdullah).

​Pelarangan tersebut didasarkan kepada nilai-nilai kerusakan yang disebabkan oleh khalwat dalam bingkai syariat tersebut, kerusakan yang ditimbulkan adalah fitnah, perbuatan yang dimurkai dan mengundang azab Allah. Sementara itu, bagi para pecinta Allah, mereka justru menjadikan istilah ini (khalwat) sebagai media yang mereka semakin dekat kepada Allah. Kata khalwat atau ‘uzlah menjadi sesuatu yang sangat dirindukan karena saat itu menjadi sebab musabab bagi sebagian orang untuk terus bisa beribadah kepada Allah tanpa batas waktu. Siang malam mereka persembahkan waktunya untuk terus bermunajat kepada Allah.

​Dalam perspektif bahasa, khalwat dan uzlah memiliki sedikit perbedaan. Perbedaan tersebut hanya pada tingkat bahasa, tetapi secara substansial memiliki persamaan, yaitu sama-sama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah melalui menyendiri, baik secara lahir maupun batin, sebagaimana ungkapan dari ulama,

مَا نَفَعَ قَلْبَ شَيئٌ مِثْلَ عُزْلَةٍ يَدْ خُلُ بِهَا مِيْدَانُ فِكْرَةٍ

”Tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat atas hati sebagaimana uzlah, sebab dengan memasuki uzlah maka alam pikiran kita menjadi lapang”.

Khalwat atau uzlah memiliki dimensi yang berbeda dengan kehidupan keseharian, karena pada dimensi ini kita merasa betul-betul dalam bermuraqabah kepada Allah. Membangun keintiman bersama Allah.

​Khalwat dalam praktiknya tidak sedikit diselewengkan oleh sebagian orang melalui tata cara yang sedikit banyak menghilangkan hak-hak orang yang berhak mendapatkankan haknya. Diantara penyelewengan ini, ada orang yang secara total bahkan ekstrim meninggalkan kehidupan sosialnya, dengan niat ingin menyucikan diri di gua atau masjid di daerah terpencil. Tak jarang mereka meninggalkan anak dan istrinya tanpa memberikan nafkah. Uzlah atau khalwat seperti ini tidak senapas dengan ajaran Islam yang mengajarkan hidup seimbang antara dunia dan akhirat. Firman Allah:

وَابْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ اللَّـهُ الدَّارَ الْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ اللَّـهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Carilah pahala akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…”( Q.S. Al-Qaśaś [28]: 77).

Ayat diatas dipertegas dengan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Selayaknya orang yang akalnya sehat memiliki empat waktu; ada waktu untuk munajat (ibadah), ada waktu untuk tafakkur (berfikir), ada waktu untuk muhasabah (introspeksi diri atau merenung), dan ada waktu untuk memenuhi kebutuhanhidup (seperti makan, minum, dan istirahat),”( H.R. Ahmad).

Dari dalil yang berasal dari Al-Qur’an dan hadis diatas menegaskan adanya keseimbangan dalam hidup saat melaksanakan perintah-perintah agama, baik seimbang dalam memberikan perhatian kepada dunia maupun perhatian kepada akhirat. Keseimbangan ini harus dimiliki oleh orang-orang yang beriman, karena menjaga keseimbangan ini bagian dari sebuah perintah agama.

Khalwat yang diajarkan oleh KH. Sa’adih Al-Batawi dalam payung Majelis Dzikir As-Samawaat sangat menjaga etika-etika dalam menjaga keseimbangan tersebut. Bagaimana tidak menjaga keseimbangan jika ibadah tersebut dilakukan dan melalui pelayanan yang luar biasa tanpa membebani sedikitpun kepada peserta khalwat. Semua aturan dan tata cara sedikit pun tidak ada yang melenceng dari koridor agama.

​Khalwat ini dilakukan sebagai media untuk mensucikan diri dari segala bentuk dosa, media untuk bertafakkur atas segala penciptaan alam semesta, mentadabburi setiap apa yang disaksikan dan terus menggali nilai-nilai ketauhidan dalam rangka semakin bermakrifat kepada Allah Swt. Ketika khalwat ini menjadi satu media untuk mendapatkan kemakrifatan, tentu bisa menjadi satu jalan yang sangat dianjurkan disaat dunia serta godaannya setiap saat tiada henti mempengaruhi melalui kesenangan-kesenangan yang menggoda…. (​bersambung)