Artikel Bulanan Kajian

DAKWAH USWATUN HASANAH

Dakwah Uswatun Hasanah

Tangerang, 26/11/2017. Dalam dakwah kontemporer yang paling berkembang saat ini, adalah Dakwah Mauizhoh Hasanah,  atau pelajaran yang baik. Yakni berdakwah dengan cara mengajarkan  atau menyampaikan materi secara lisan atau tulisan.  Sangat jarang dakwah yang  take action atau memberi  contoh dengan tindakan nyata, yang disebut Dakwah Uswatun Hasanah.  Selain menyampaikan ajaran secara lisan dakwah ini sekaligus memberi contoh atau mengerjakan ajaran. Lebih berat karena harus mempraktekkan ajaran yang tidak semua orang mau dan mampu.

Dari perspektif komunikasi, dakwah itu artinya penyampaian pesan  (message).  Mauizhoh Hasanah berkembang pesat seiring  dengan perkembangan teknologi informasi (IT) saat ini. Terjadi revolusi penyampaian pesan yang sangat spektakuler dan luar biasa.  Dalam hitungan menit bahkan detik sebuah “pesan” bisa menjangkau  jutaan bahkan miliaran audiens.  Inilah yang membuat para da’i  pun berlomba-lomba menggunakan teknologi ini  dalam dakwahnya , karena jangkauan massif audiensnya yang sangat luar biasa jumlahnya.

Assamawaat  sebagai sebuah majelis dzikir para  sufi atau tasawuf,  berdakwah dengan cara keduanya.  Tetapi lebih menekankan pada pada Dakwah Uswatun Hasanah. Maka ketika ditanya apa nama thariqotnya Assamawaat..? Dalam banyak kesempatan  Pemimpin  Majelis Dzikir Assamawaat,  KH. Saadih Al Batawi, mengatakan  thoriqot Assamawaat itu adalah Thoriqot Amaliyah. Yakni Thoriqot yang mengutamakan amal nyata dalam penerapan ajarannya.  Bukan berarti Assamawaat mengabaikan Mauizhoh Hasanah,  justru majelis ini sudah memiliki jadwal  taklim atau kajian  tentang Al Qur’an  Hadist serta kitab klasik karya ulama di masa lampau.

Karena tekanan atau stressing  dari Dakwah Assamawaat ini pada Uswatun Hasanah, maka para Salik atau Murod Assamawaat  selalu melihat ucapan dan tindakan Mursyid  sebagai acuan ajaran. “Antum semua silahkan meninggalkan saya kalo saya sudah tidak lagi mengajarkan dan mengamalkan Al Qur’an dan Hadist,” kata KH. Saadih Al Batawi dalam banyak kesempatan malam Jum’at.  Menurutnya, seorang mursyid jika dalam dakwahnya masih minta bayaran, maka ajarannya batal.  Demikian juga jika dia tidak mengamalkan apa yang dia ajarkan, maka dia belum mencapai predikat seorang Mursyid.

Itulah sebabnya, mengapa  Uswatun Hasanah banyak ditinggalkan oleh para pendakwah..? karena banyak yang tak mau menanggung resikonya.  Apalagi jika sudah menyangkut harta. Padahal sejarah dan peradaban banyak dibentuk oleh dakwah Uswatun Hasanah ini. Sebagaimana slogan –para ahli komunikasi  “An Action better  than thousand words” ( satu perbuatan lebih baik dari seribu  kata-kata).  Dan di tengah sepinya  Uswatun Hasanah, Assamawaat memilih dakwah ini sebagai gerakan dakwahnya.  Wallahu a’lam. (end)