Artikel

Ad Dien, Sebuah Tata Kelola

Jakarta, Feb 2018. Kata “Dien” sering diterjemahkan dengan Agama dalam pengertian umum. Namun kata Dien memiliki makna yang lebih luas dari sekedar makna agama secara sosiologis. Dari sudut pandang soisologis sebuah ajaran bisa dikatakan sebagai Agama jika memenuhi syarat, ada penganut atau ummat,a, ajaran atau dogma, pembawa ajaran, kitab suci, objek sesembahan yang adi kudrati dan lain-lain. Jika tidak memnuhi syarat itu sebuah ajaran tidak bisa disebut Agama tetapi hanya sekedar sebagai Aliran Kepercayaan.
KH.Saadi AlBatawy, Pimpinan Majelis Dzikir Assamawaat AlMaliky, memaknai Dien itu sebagai “Tata Kelola”, yakni seperangkat ajaran tentang tatanan untuk mengatur dan mengelola kehidupan manusia baik pribadi, kelompok juga alam semesta. Untuk bisa disebut sebagai Dien, satu agama harus memiliki ajaran lengkap yang meliputi semua aspek kehidupan manusia dan alam sekitarnya. Ada jaminan jaminan keteraturan, keselamatan dan kelestarian jika ajaran itu diterapkan, jaminan itu bisa dibuktikan secara empiris historis, melalui pengalaman langsung orang yang mengamalkannya dan bukti sejarah tentang manusia di masa lalu. Sebaliknya akan ada kehancuran, kerusakan dan musnah jika ajaran tatanan itu ditinggalkan. Alqur’an banyak mengingatkan tentang “Berapa banyak ummat terdahulu yang Kami hancurkan dan Kami ganti dengan ummat yang lebih baik karena mereka melakukan kerusakan di muka bumi”. Pertanyaannya, Kerusakan apa yang diperbuat ummat terdahulu sehingga mereka dimusnahkan. Kerusakan karena meninggalkan ajaran tentang Tata Kelola itu, menuruti hawa nafsu sendiri dengan mengikuti langkah-langkah syetan.

“Islam itu Dien,” kata KH. Sa’adih dalam beberapa kajian malam Jum’at. Ajaran dan informasi yang ada dalam Islam lengkap dan komprehensif. Ajarannya melingkupi semua aspek kehidupan manusia yang menjamin manusia itu selamat untuk kehidupan kini dan nanti. Dan jika manusia mengikuti ajaran ini juga akan berdampak pada kelestarian pada alam dan lingkungan sekitarnya. Karena itu ajaran ini disebut sebagai Rohmatan lil Alamiin atau Rahmat untuk semesta. Informasinya tentang kehidupan dan rahasia-rahasiaNya tersirat dan tersurat dalam ayat Alqur’an. Demikian pula penjelasan tentang kehidupan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang sangat jelas. Namun manusia banyak yang mengingkari dan menolak percaya, mengatakan bahwa itu hanya khayalan atau kabar bohong yang dibuat-buat. “Kapan mereka mulai percaya? Ketika sudah mendekat kematian,” tegas KH. Sa’adih. Makanya dalam majelis pengobatan Assamawaat, banyak orang-orang tua yang berobat ketika ditanya untuk apa capek-capek berobat. Semua menjawab ingin sehat dan menggunakan kesehatannya untuk melakukan kebaikan dan ibadah sebagaimana yang diperintahkan dalam ajaran. Sebuah keinginan yang mungkin tak pernah atau jarang terbersit ketika badan masih sehat, usia masih muda, harta masih berlimpah atau jabatan masih punya. Sama dengan keinginan ketika manusia sudah berada di alam kubur atau di akhirat yang meminta sedetik waktu kembali ke dunia untuk beramal sholeh.

Maka di Majelis Dzikir Assamawaat, orang diajarkan tentang bagaimana mengenal Tuhannya, melalui jalan-jalan yang pernah dilalui oleh para Anbiya, Mursalin dan Hamba-hambaNya yang Sholeh. Jalan ini harus ditunjuk oleh seorang Mursyid (orang yang pernah menempuh jalan itu) bukan yang hanya tahu jalan tetapi tidak pernah melaluinya. Jalan itu hanya bisa dilalui melalui pintu Mahabbah kepada Rosulullah SAW. “Tidak ada yang tidak mahabah jika dia mengenal betul sosok yang satu ini,” tegas Kyai Sa’adih di depan murid-muridnya. Allah SWT yang menurunkan Dien dengan perantara RosulNya, Nabi Muhammad SAW. Maka orang yang mengenal Allah SWT akan menjalani hidup sesuai tatanan “ tata kelola” yang dibawa dan dicontoh oleh Rosulullah SAW. (AA)