Artikel

Bagaimana Cara Membangun Agama itu ?

Jakarta, (02/ 2018) . Pertanyaan ini yang banyak melintas di benak kita setiap kali mendengar ajakan atau perintah untuk membangun agama. Kebanyakan orang mengira membangun agama itu sama seperti membangun peradaban seperti yang pernah dilakukan oleh orang di masa lalu semisal Harun AlRasyid dan putranya Al Makmun. Kalau benar seperti itu maka yang bisa membangun agama itu hanya sedikit orang. Tetapi ini perintahnya untuk semua orang.

“Apa saja yang kamu lakukan dengan harta dan jiwa yang berkontribusi seseorang untuk mengenal Allah dan akhlak RosulNya,” kata Kyai Saadi di depan murid-muridnya. Rosulullah berdakwah selama 23 tahun untuk mengajak orang mengenal Allah SWT dengan semua yang dia miliki. Bukan hanya harta jiwapun beliau korbankan. Demikian juga orang-orang terdekatnya, Ibunda Siti Khodijah istrinya, menghabiskan seluruh hartanya untuk membantu perjuangan Rosul mengajak orang mengenal Allah SWT. Demikian juga sahabat-sahabatnya melakukan hal yang sama seperti yang Rosulullah lakukan.

Apakah harus dengan melakukan hal-hal besar? Tidak! Bahkan Rosul selalu memerintahkan untuk konsisten melakukan kebaikan walaupun hanya sedikit. Jangan marah, tersenyum kepada saudaramu, baik-baik dengan tetangga, sebarkan salam dan lain-lain. Bahkan Rosululllah melakukan hal-hal yang menurut pandangan orang mungkin absurd atau sia-sia, yakni setiap pagi menyuapi seorang Yahudi buta yang kerjaanya membully beliau setiap hari.

“Membangun agama itu dengan amal,” tegas Kyai Saadi. Amal itu buah dari ilmu. Amal itulah yang akan membuat agama tegak. Amal yang seperti apa? Amal yang berdasarkan pada ilmu dan keimanan. Dengan amal itu maka akan banyak anak yatim yang tersantuni jiwa raganya dan terjaga keimanannya. Amal juga membuat fakir miskin terhalang untuk berbuat buruk dan kokoh keyakinan kepada Allah SWT dan faham dengan kemuliaan akhlak Rosulullah. “Peradaban itu akan terbangun dengan sendirinya jika dalam setiap diri manusia maujud sifat Allah dan perbuatannya terhiasi dengan kemuliaan akhlak Rosulullah,” terang Kyai Saadi.

Bagi orang yang faham tentang kemuliaan atau keutamaan membangun agama itu, maka dia tidak pernah merasa lelah ataupun merasa rugi. Bagi orang yang belum sampai tingkat pemahamannya, akan menganggap perkerjaan sia-sia mengeluarkan harta untuk diberikan kepada orang lain dengan percuma. Apalagi jaman sekarang dimana manusia meletakkan kemuliaan itu di harta dan uang. Tetapi tidak pada mereka yang yakin dengan janji-janji Allah SWT. Membangun agama itu sebagai sesuatu yang nilainya melampaui dunia dan segala isinya, bahkan kenikmatan-kenikmatan nanti pada fase kehidupan setelah dunia ini. “Saya tidak cari pahala saya mengejar ridho Allah saja,” kata Kyai Saadi beberapa kali kesempatan kajian malam Jumat.

Mengajar murid-muridnya dengan contoh langsung. Kyai Saadi sering mengajak muridnya berkeliling dengan sepeda atau sepeda motor ke kampung-kampung terpencil mendatangi nenek-nenek dan orang miskin untuk menyantuninya. Dalam setiap taklim di masjid dan musholla menunjukkan bagaimana menyantuni anak-anak yaitim. Bahkan menjalani praktek pengobatan selama 24 tahun tanpa jeda. Tidak kurang dari 150-200 orang setiap malam Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu. Tanpa bayaran tanpa kotak amal. Bahkan mereka yang tidak mampu beliau bekali uang. Di malam lain beliau mengajar murid-muridnya.
“Teruslah riyadhoh sampai kamu merasakan nikmatnya membangun agama,” nasehatnya kepada para muridnya. (aa)