Artikel

SELAMAT DATANG DI LABORATORIUM SPIRITUAL “KHALWAT”

SELAMAT DATANG DI LABORATORIUM SPIRITUAL “KHALWAT”

(Abdul Ghofur, MA. M.Ud)

Menyambut salah satu momen akbar, laboratorium spiritual bagi seluruh mahasiswa As-Samawaat Al-Maliki tentu di sertai dengan hati yang berdebar kencang. Sebuah momen dimana diharapkan menjadi media perjumpaan dengan Tuhan nya. Ajang kebaikanpun mencoba di raih, baik memperbaiki puasa suluknya, amaliyahnya hingga ibadah-ibadah lainya yang semua itu adalah sebuah upaya menyiapkan hati dan fikiran untuk lebih fokus dalam rangka mentadabburi ayat-ayat kauniyah Allah.

Khalwat atau Uzlah (make it simple definition) adalah tradisi dalam tarekat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyepi. Mereka yang menjalani khalwat adalah para pelaku suluk, meskipun esensinya harus dilakukan oleh umat Islam dan kaum beriman secara keseluruhan. Khalwat secara bahasa berasal dari akar kata khala yang berarti sepi, dan dari akar kata ini praktik khalwat adalah praktik menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ajaran ini banyak kita temukan di dalam kitab-kitab sufi yang dikaji di pesantren, seperti Ihya’ Ulumuddin dan Minhajul `Abidin karangan Imam al-Ghazali, ar-Risalah al-Qusyairiyah karangan Imam Abul Karim Hawazin al-Qusyairi; dan kitab-kitab lain. Yang sejatinya khalwah adalah pemutusan hubungan dengan makhluk menuju penyambungan hubungan dengan Al-Haq yaitu Allah SWT.

Satu hal yang perlu saya sampaikan bahwa penyingkapan (Kasyf) adalah BUKAN sebuah tujuan saat kita berjalan (suluk) menuju Allah, Kasyf hanya merupakan sebuah hadiah yang Allah berikan kepada hamba yang betul-betul ikhlas secara total dalam menuju kepadaNya,  termasuk di dalamnya bertemu dengan ruh orang-orang sholeh.

Untuk menjadi seorang yang arif atau sufi memang susah-susah gampang. Mereka harus menjalani sebuah proses panjang yang untuk meraihnya tidak sedikit yang gugur. Tingkatan-tingkatan dalam  pendakian ini bisa di kategorikan sebagai berikut:

  1. Ilmu

Hal-hal yang mengandung pengetahuan tentang Allah. Seluk beluk tentang Allah, mulai dari Dzat, Sifat, Af’al dan semua tentangNya yang seorang hamba Mustahil mengetahui semua tentangNya karena memang Dia bersifat Laitsa kamitslihi Syaiun. Bagaimana mungkin manusia yang terbatas ingin menjangkau Dia yang tidak terbatas.

 

  1. Musyahadah

Sebuah penyaksian diri kepada Allah. Melalui rahmatNya, Dia Mentajalliyatkan diri-Nya kepada siapa saja yang telah sampai kepada-Nya. Hanya hamba-hamba terpilihlah yang mampu Wushul kepada-Nya.

 

  1. Tahaqquq

Merasakan kebenaran. Sebuah kebersatuan diri dengan Tuhan melalui rasa yang tidak mampu untuk dibahasakan. Tenggelam dalam diri Tuhan. Sebagai sebuah ilustrasi dari tingkatan-tingkatan di atas adalah berbeda jika kita mendengar dari saudara, teman atau kerabat tentang sebuah insiden kecelakaan. Memori atau daya ingat kita akan menjadi sangat terbatas. Ini akan sangat berbeda jika kita menyaksikan (musyahadah) insiden kecelakaan itu secara langsung, maka daya ingat kita akan lebih lama dan selalu terkenang dalam waktu yang lebih lama. Musyahadah (menyaksikan) itupun masih ada batasannya. Karena, sebuah kejadian tidak akan pernah kita lupakan selamanya manakala kita sendirilah yang mengalami (tahaqquq). Dalam level Tahaqquq inilah puncak dari tujuan manusia beribadah kepada Allah.

 

Kalau kita menengok sejarah perjalanan para Nabi dan Rasul maka kebanyakan di antara mereka melalui sebuah proses pengasingan diri, uzlah. Sebut saja Nabi Zakaria, Nabi Musa hingga Nabi Muhammad SAW. Artinya bahwa khalwat adalah ibadah yang mempunyai nilai khusus karena bangunan yang menjadi tumpuannya adalah sebuah totalitas penyerahan diri si hamba kepada Sang Khaliq. Ketika sebuah penyerahan diri kepada Sang Khaliq betul-betul sudah mencapai totalitas maka karunia-karunia-Nya secara otomatis akan diberikan kepadanya. Dan sebagai kesempurnaanya maka bimbingan seorang guru betul-betul menjadi sesuatu yang wajib sebagai pengontrol dari hal-hal yang bersifat kesesatan. Sebab, banyak para pelaku spiritual tersesat karena barometer yang digunakan bukanlah seorang guru yang telah wushul tetapi berjalan sendiri sehingga dengan mudah setan menyesatkan jalannya. Semoga kita semua, khususnya seluruh Jamaah MDS As-Samawaat atas bimbingan guru yang Mulia Syeikh KH. Sa’adi Al-Batawi akan mampu meraih makrifat Allah SWT.

About the author

IT & Dokumentasi Assamawaat