Artikel

Protection for Critical Thinking

Protection for Critical Thinking

Jakarta,  Menjadi seorang Sufi atau Jemaah thariqot itu bukan seorang yang berpikir jumud dan pasif. Tetapi dia harus selalu dalam kedaan Berpikir Kritis. Memikir semua fenomena yang ada di sekitarnya termasuk memikirkan tentang penciptaan dirinya, dari mana dia berasal, kemana dia akan menuju dan dimana posisinya sekarang.  Bagaimana dirinya yang semula hanya berupa setetes mani atau sperma kemudian tumbuh dan berkembang menjadi makhluk sempurna dengan segala kemampuan yang diberikan kepadanya, penglihatan, pendengaran, penciuman termasuk kemampuan mengolah data yang super canggih dalam perangkat bernama Otak. Dengan alat itu, dia mampu menyelesaikan banyak masalah yang ada dalam hidupnya.  “ Berpikir kritis yang akan mengantarnya pada pemahaman tentang Zat yang memiliki sifat-sifat Maha yang menjadi sebab segala sesuatu,” kata Kyai Saadih Al-Batawi. Pimpinan Majelis Dzikir Assamawaat Al-Maliki.

“Jemaah taqorrub itu harus selalu menjaga berpikir kritisnya, protection for critical thinking,” tegas Kyai Saadih pada pengajian malam Jum’at.  Melalui seikat  Rambutan yang dibawanya pada pengajian malam Jum’at itu, Kyai Saadih menunjukkan bagaimana seorang sufi memikirkan penciptaan Rambutan itu bisa mengantarnya pada pemahaman akan Maha Besarnya Dzat yang menciptakan Rambutan itu. Bermula dari satu biji, tumbuh menjadi tunas, membesar menjadi batang dan pohon, pohonnya memiliki ranting yang menumbuhkan bunga. Dari bunga menjadi putik, berkembang jadi buah mentah berwarna hijau, pelan-pelan warna hijau itu menjadi kuning, orange dan merah pertanda buah itu telah matang.  “Darimana dan bagaimana proses perubahan warna dari hijau menjadi merah itu jika bukan karena ada Dzat Maha Pencipta yang menjadi sebabnya,” kata Kyai Saadih retoris.

Tanpa ada kekritisan berfikir seorang jemaah taqorrub akan mengalami kejumudan dalam cara berfikir dan pasif dalam perilaku. Akibatnya, Islam terkesan tampil lusuh dan selalu  ketinggalan dengan perubahan lingkungan. Reaktif dengan perubahan social, gagap menghadapi realitas dan memilih lari dengan membentuk kelompok  eksklusif  yang memagari diri dengan dogma. Padahal Al-Qur’an selalu mendorong ummatnya untuk selalu berfikir kritis terhadap semua fenomena dan mampu membawa perubahan pada jalan yang lurus. Bukan perubahan yang akan membawa manusia pada perusakan kehidupan dan alam semesta.  “Ketakwaan  juga mensyaratkan adanya kekritisan berfikir dan Al-Qur’an menyediakan dirinya untuk orang-orang yang memiliki kekritisan berfikir,” tegas Kyai Saadih. 

Dalam sebuah Majelis Dzikir, seorang murod pun harus berpikir kritis terhadap ucapan dan perbuatan Mursyidnya. Karena diantara ucapan dan perbuatan sang guru sering tersirat ajaran tentang bagaimana mengamalkan Alquran. “Kalo antum semua hanya datang ngaji setiap malam Jumat tetapi tidak pernah melihat apa yang saya kerjakan, kapan antum dapat pelajaran mengamalkan ajaran?” tanya Kyai Saadih kepada murid-muridnya.  Pertanyaan yang tidak perlu jawaban tetapi bermakna dorongan agar para murid selalu mengembangkan berfikir kritis.  Menurutnya kajian atau pengajian setiap malam Jumat dan malam Ahad hanya akan jadi rutinitas jika tidak diikuti dengan kekritisan berpikir.

Seorang yang berpikir kritis akan tercermin dari perilaku sehari-harinya. Kaya dengan informasi dan pemahaman terhadap semua fenomena dan memiliki ketajaman analisa.  Memiliki horizon yang lebih luas dan mudah memecahkan masalah karena cara berpikirnya selalu di atas masalah yang  ada.  Dia tenang menghadapi dunia karena dia bisa meilhat dunia dari tempat yang tinggi.  Maka seorang sufi akan Zuhud terhadap  dunia karena dia memahami kadar nilai dunia dengan segala isinya. “Zuhud itu bukan antum gagal meraih dunia lalu jadi gembel. Kalo antum tak punya apa-apa lantas apa yang mau dizuhudin,” kata Kyai Saadih dengan logat Betawi yang kental.

Berpikir kritis itu harus selalu hidup dalam diri seorang Salik dalam Suluknya.  Berpikir kritis itu merupakan instrument atau tool dia untuk menaiki anak tangga spiritual melalui pemahaman terhadap ayat-ayatNya, baik ayat yang tersurat (Al-Quran) ataupun yang tersirat (Alam semesta). Tanpa kekritisan berpikir itu seorang Salik akan menjadi seorang jumud yang lemah inovasi dan pasif dengan perkembangan lingkungan sekitarnya.  Karena itu, dia harus memiliki kemampuan untuk selalu menjaga dan merawat kekritisan berpikirnya, Protection for Critical Thinking. (end)

About the author

IT & Dokumentasi Assamawaat