Berita

Qurban Assamawaat 2018

Qurban itu Tidak Harus Menunggu Mampu Membeli Kambing Atau Sapi

Tangerang, 22 Agustus 2018 – Secara syari’at berkurban dilakukan dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing, domba atau sapi. Satu kambing atau domba untuk satu orang dan satu sapi untuk 7 orang. Para ulama fiqih menetapkan tatacara atau kaifiyah qurban agar mudah dilaksanakan secara empiris. Namun secara hakikat berkurban tidak hanya menyembelih hewan ternak tetapi juga ‘menyembelih” apa saja yang kita cintai terutama harta sebagai bukti cinta kita kepada Allah SWT.

“Maka untuk kalangan seperti kita berkurban tidak hanya terbatas ketika sudah mampu membeli kambing tetapi juga bisa dengan seekor ayam jago jika baru itu yang bisa kita lakukan,” kata KH. Saadi AlBatawy, pimpinan Majelis Dzikir Assamawaat. Momentum Idul Adha di Assamawaat dijadikan sebagai sarana untuk mengajak jemaah dan masyarakat agar mau menafkahkan hartanya membantu saudara kita yang lain. Karena menafkahkan harta itu bukan karena seseorang punya harta atau tidak tetapi karena dia mau atau tidak.

Banyak yang tidak mau melepas harta karena ego atau nafsu yang sudah terikat dengan harta itu. Maka moment Idul Adha menjadi waktu yang tepat untuk melepas ego dari harta atau sesuatu yang dicintai dan kembali kepada Tuhannya sebagai ego yang muthmainnah karena telah telah mendapat ridhoNya. Maka setiap malam pengobatan selama sebulan menjelang Idul Adha panitia menyediakan kesempatan kepada para jemaah untuk ikut berkurban. Dari dana yang terkumpul itu akan dibelikan hewan qurban untuk dibagikan kepada para mustahiq.

Pelaksanaan qurban Assamawaat dilakukan di Tanjung Burung, Desa Kohod, Paku Haji, Tangerang, Banten. Para mustahiq adalah warga sekitar yang sudah terdata seminggu sebelum hari H. 8 ekor sapi yang diqurbankan dibeli langsung dari pemiliknya setelah panitia melakukan survey untuk menentukan sapi yang sesuai dengan kriteria. ”Tim surveynya adalah jemaah yang sudah sangat expert dengan persapian. Hanya dengan melihat performancenya langsung bisa ditebak berat bobot dagingnya,” kata Ust. Ahmad Suhendi, Ketua Panitia Qurban 2018.

Semua daging dibagikan kepada para mustahiq dan tidak ada yang disisakan untuk panitia sebagaimana yang dilakukan oleh panitia qurban pada umumnya. Pimpinan majelis melarang panitia untuk mengambil daging qurban dan semua harus tersalurkan kepada warga penerima. Pembagian dilakukan oleh tim yang dibagi dalam beberapa kafilah sesuai dengan wilayah distribusinya. Satu tim terdiri dari beberapa orang jemaah yang dipimpin oleh dua orang ustadz. Warga dikumpulkan di rumah RT/ RW setempat dan ustadz menyampaikan salam dari pimpinan majelis dan sepatah kata pengantar sebelum daging qurban dibagikan. “Sebelum zhuhur proses pemotongan dan pembagian hewan qurban sudah selesai dilaksanakan,” jelas Ust. Suhendi.

Berqurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual untuk Pequrbannya sendiri tetapi memiliki dimensi lain yang lebih luas termasuk pemberdayaan ekonomi dan perbaikan gizi masyarakat. “Berapa banyak transaksi ekonomi yang terjadi dari jual beli hewan qurban dan berapa banyak gizi masyarakat terangkat dengan mengkonsumsi daging,” ujar Kyai Saadi. Dari sisi ini, maka Qurban adalah sebuah mekanisme keseimbangan yang ditetapkan Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia. Karena itu selama masih ada warga yang mau berbagi dan menafkahkan harta untuk sesama maka selama itu pula krisis ekonomi dapat dihindari.

Secara spiritual, qurban adalah upaya pembersihan ruh dari ikatan-ikatan materi yang membuatnya terhalang untuk mengenal dan bertemu dengan Rabbnya. Allah SWT sebagai Zat Yang Tersembunyi ingin dikenali oleh ciptaanNya. Materi sebagai salah satu dimensi kehidupan manusia sering membuat manusia terhalang untuk mengenal Tuhannya karena ruh sebagai sisi lain manusia yang memiliki dimensi Ketuhanan terhalang akibat manusia tidak sungguh-sungguh merawat dan menjaganya. Allah SWT memberi petunjuk kepada manusia bagaimana cara taqarrub/ mendekatkan diri kepadaNya melalui Millah yang diperankan oleh tiga tokoh utama dalam Qurban yakni Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS dan Ibunda Siti Hajar RA. (Ass)